Tampilkan postingan dengan label Shalat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shalat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Maret 2017

Coba 7 Langkah Ini Agar Shalat Lebih Khusyu

Credit Image: muslimvillage.com


Baru saja takbir, tiba-tiba teringat pintu rumah yang belum dikunci. Saat ruku, berpikir menu apa untuk makan nanti. Sujud tiba, suara tangis bayi membuyarkan doa. Demikian pikiran mengolah data-data tak penting yang mampu membuyarkan kekhusyukan shalat. Alih-alih berinteraksi dengan Sang Ilahi, kita justru memikirkan hal-hal dunia yang sebetulnya sepele. Syaithan menggoda dan mengganggu agar shalat kita menjadi layaknya olahraga saja.

Lalu, bagaimana agar shalat kita khusyu dan bukan sekedar gerakan tanpa makna? Kedamaian hati semestinya muncul usai shalat. Kita seharusnya dapat merasakan kehadiran dan pengawasan Allah Ta'ala di setiap gerakan yang kita lakukan dan bacaan yang kita lantunkan. Namun tentu bukan hal mustahil mendapatkan nikmat kekhusyukan shalat tersebut. Berikut tujuh langkah yang bisa dilakukan agar shalat kita lebih khusyu.

1. Shalat di awal waktu
Begitu adzan berkumandang, segeralah mengambil air wudhu. Shalat di awal waktu merupakan langkah pertama agar mendapat kekhusyukan shalat. Hal ini menunjukkan bahwa shalat merupakan aktivitas utama dan paling penting dibanding yang lain. Dengannya, kita tak memikirkan aktivitas lain saat aktivitas utama dikerjakan.

2. Makan dahulu jika lapar
Jangan pernah shalat di kala perut keroncongan. Bahkan ada kalimat nyleneh yang sebetulnya patut dikerjakan yakni, “Lebih baik makan ingat shalat daripada shalat ingat makan.” TeNtu sulit bagi kita mendapatkan khusyuk saat shalat jika perut kelaparan.
Rasulullah pun melakukan hal demikian. Dikabarkan dari Anas, Nabiyullah bersabda, “Bila makan malam telah disediakan, maka mulailah dengannya sebelum kalian shalat magrib,” HR. Bukhari dan Muslim.

3. Tidak menahan buang air
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak (khusyuk) shalat ketika makanan terhidang dan ketika terganggu oleh dua hal yang kotor,” HR. Muslim.
Dua perkara kotor yang dimaksud yakni buang air kecil dan buang air besar. Maka agar shalat khusyuk, mestilah kita selesaikan dulu segala hajat ke kamar mandi.

4. Tidur dahulu jika mengantuk
Selain lapar, mengantuk pun kondisi yang sangat dihindari ketika shalat. Jangan sekali-kali shalat di saat mata kita mengantuk berat. Rasa kantuk sudah pasti akan mengganggu konsentrasi kita dan merusak kekhusyukan shalat.
Rasulullah bersabda, “Bila seseorang di antara kalian mengantuk ketika hendak shalat, hendaklah ia tidur terlebih dahulu hingga hilang rasa kantuknya. Karena jika kalian shalat dalam keadaan mengantuk, ia tidak akan menyadari seandainya saat itu ia ingin memohon ampun kepada Allah, tetapi justru mengucapkan celaan dan makian pada diri,” HR. Malim, Abu Dawud, At Tirmidzi dari Aisyah.

5. Bersihkan tempat shalat
Bersih di sini bukan hanya dari kotoran, namun juga dari bau dan gambar-gambar. Bersih dari najis memang lah suatu keharusan di tempat shalat. Adapun gambar sering kali membuat perhatian kita teralihkan. Jadi pastikanlah tempat shalat bersih dari segala hal yang mengganggu agar shalat kita lebih khusyuk.

6. Tumakninah
Makna tumakninah yakni melakukan gerakan shalat dengan tidak terburu-buru. Perpindahan gerakan satu ke gerakan lain tidaklah dilakukan hingga tulang-tulang menempati tempatnya, yakni gerakan itu sempurna. Penyempurnaan gerakan termasuk penyebab penting kekhusyukan shalat.
Lebih khusus, gerakan ruku dan sujud lah yang sering kali tidak dilakukan dengan tumakninah. Rasulullah bahkan memberi peringatan, “Perumpamaan orang yang tidak menyempurnakan ruku dan mematuk-matuk dalam sujudnya laksana orang yang lapar memakan sebiji atau dua biji kurma namun tidak mengenyangkannya,” HR. Abu Ya’la, Ath Thabrani.
Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda, “Sejahat-jahat pencuri ialah orang yang mencuri dalam shalatnya,” Para shahabat pun bertanya-tanya, “Bagaimana ia mencuri dalam shalatnya?” Rasulullah menjawab, “Ia tidak menegakkan tulang belakangnya ketika ruku dan sujud,” HR. Ahmad dan Ath Thabrani.

7. Memahami bacaan
Langkah terakhir agar mendapat kekhusyukan shalat yakni dengan memahami apa yang kita baca. Semua bacaan shalat menggunakan bahasa Arab yang bukan bahasa kita. Oleh karena itu, kita perlu memahami artinya dan memaknai kandungan bacaannya. Jika kita memahaminya, sesungguhnya bacaan shalat tersebut sangatlah menyentuh jiwa. Bacaan demi bacaan shalat berisi pengagungan Allah Ta’ala, serta berisi banyak sekali doa yang sangat kita butuhkan.
Pemahaman bacaan shalat akan membuat kita lebih merasa berinteraksi langsung kehadapan Allah. Mengerti apa yang kota baca pun akan membuat shalat lebih khusyuk dan merasa seakan-akan kita tengah ‘ngobrol’ dengan Allah Ta’ala.

Demikian tujuh langkah yang bisa dipraktekkan agar mendapat kekhusyukan shalat. Tujuan shalat sebagai ibadah yang agung pun akan kita dapatkan. Menjadi pribadi yang baik dan terhindar dari perbuatan keji dan mungkar pun menjadi salah satu hasil besar dari shalat yang khusyuk. Semangat beribadah khusyuk.

Published at: muslimahdaily.com

Jumat, 10 Februari 2017

Bunda, Begini Cara Shalat Sambil Gendong Bayi

credit image: rumahkeluargaindonesia.com



Alhamdulillah, syariat ini dibawa Rasulullah dengan banyak sekali kemudahan, keringanan dan pengecualian dalam ibadah. Meski tengah menghadap Ilahi, seseorang dibolehkan menggendong anak ataupun bayi.

Bagi muslimah yang telah dianugerahi buah hati, menggendong anak saat shalat menjadi kebutuhan darurat. Banyak kondisi yang mengharuskan ibu muslimah melakukannya. Sebut saja kondisi bayi yang menangis saat ditinggal shalat, atau anak mengganggu dengan memanjat punggung ibunda yang tengah bersujud. Bolehnya shalat sambil menggendong anak juga seringkali dibutuhkan ibu saat shalat di masjid, atau bahkan saat shalat hari raya.

Kendati dibolehkan, ada syarat yang harus dipenuhi. Pertama, shalat menggendong bayi hanya dilakukan saat ada kebutuhan. Jadi tidak serta-merta anak digendong saat shalat padahal saat itu anak tenang atau tidak mengganggu. Adapun syarat kedua, pastikan anak suci lagi bersih dari najis. Syarat berikutnya, mengikuti tata cara yang benar sebagaimana dicontohkan

Nabi Muhammad. Lalu bagaimana cara yang dicontohkan Rasulullah tersebut? Berikut hadits yang mengabarkannya. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menggendong cucunya, Umamah bintu Zainab Bintu Muhammad Rasulullah. Hadits mengenai hal tersebut disampaikan oleh Abu Qatadah radhiyallahu anhu , ia berkata,

"Saya melihat Rasulullah shalat mengimami para Sahabat sambil menggendong Umamah bin Abi al-Ash, anak Zaenab putri beliau shallallahu‘alaihi wasallam, di atas bahunya. Maka apabila ruku, beliau meletakkannya dan apabila selesai sujud, beliau menggendongnya kembali." Pada jalur riwayat lain, disebutkan "Apabila berdiri beliau menggendongnya dan apabila sujud beliau meletakkannya." (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Terdapat pula fatwa yang menjelaskan rinci kebolehan dan cara shalat sambil menggendong anak. Dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin saat ditanya apakah seorang ibu boleh menggendong anaknya saat shalat. Syaikh menjawab bahwa shalat sambil menggendong anaknya tidak mengapa bila anaknya dalam keadaan suci dan memang butuh digendong. Syaikh berkata, hal tersebut mungkin terjadi karena anaknya menangis dan bisa menyibukkan si ibu apabila tidak  menggendongnya.

"Telah pasti kabar yang datang dari nabi yang menyebutkan beliau pernah shalat sambil menggendong cucu beliau Umamah binatu Zainab bintu Rasulullah Ketika itu Rasulullah shalat mengimami orang-orang dalam keadaan Umamah dalam gendongan beliau. Bila berdiri, beliau menggendong Umamah dan di saat sujud beliau meletakkannya. Apabila seorang ibu melakukan hal tersebut maka tidak apa-apa, tetapi yang lebih utama tidak melakukannya melainkan jika ada kebutuhan.” (Nurun ‘alad Darb, hlm. 17), dikutip dari web darussalaf.

Maka telah jelas bagi kita perihal tata cara yang benar saat shalat menggendong anak. Jika dirinci dengan terang maka sebagai berikut;

Pertama, ketika takbiratul ihram, posisi anak ada pada gendongan kita. Lalu kedua, saat ruku, taruh anak di dekat tempat sujud. Demikian posisi anak seperti itu hingga sujud kedua usai. Ketiga, yakni saat bangkit dari ruku, ambil kembali si anak dan gendong ia kembali. Demikian seterusnya hingga rakaat shalat usai.

Hal lain yang mungkin perlu diperhatikan yakni kelapangan tempat shalat. Tentu kita harus lebih memilih kelapangan tempat shalat, terutama saat shalat berjamaah. Jangan sampai keberadaan anak kita mengganggu jamaah lain saat menaruhnya di tempat sujud. Selain itu, perlu perhatian ekstra pula untuk anak yang masih bayi ataupun balita. Penggunaan popok yang baru serta jaminan tidak tembus menjadi perhatian kita sebelum memulai shalat.

Demikian syariat ini memberi keringanan. Tata caranya pun telah diajarkan oleh Rasulullah melalui hadits beliau diatas. Selepas ini, tak perlu ragu lagi untuk menggendong anak saat shalat.

Published at: muslimahdaily.com