Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Maret 2017

A Thousand Splendid Suns; Perjuangan Para Wanita bak Mentari Surga



Siapa pun yang pernah membaca novel pertama Khaled Hosseini, The Kite Runner, pasti akan menyukai novel keduanya ini. Sebagaimana The Kite Runner yang sukses bestseller di AS maupun manca negara, A Thousand Splendid Suns pula meneruskan kesuksesan tersebut.

Novel kedua penulis berkebangsaan Afghanistan-Amerika ini bukanlah lanjutan kisah The Kite Runner. Namun latar kisahnya masih sama, yakni Afghanistan di era peperangan. Adapun tokoh utama kali ini merupakan dua orang wanita Afghanistan yang berjuang untuk hidup.

Novel berkisah tentang dua orang wanita, Mariam dan Laila, sekaligus kisah dua kota di Afghanistan, Herat dan Kabul. Di bagian awal novel mengisahkan kehidupan Mariam, seorang gadis kecil yang tinggal bersama ibunya di perbatasan Kota Herat. Ia merupakan anak "haram" hasil pemerkosaan majikan ibunya yang kaya raya bernama Jalil.

Sepekan sekali, Jalil mengunjungi Mariam hingga membuat gadis remaja itu sangat mengidolakan ayahnya. Sementara sang ibu sangatlah membenci Jalil. Hingga suatu hari Mariam kabur ke rumah ayahnya di Heret tanpa peduli ucapan ibunda bahwa ia tak akan diterima di keluarga besar Jalil yang telah beristri dua.

Mariam merasa menyesal begitu tiba di rumah besar ayahnya yang merupakan saudagar kaya pemilik bioskop Heret. Ucapan ibunya benar, ia tak diterima dan diusir begitu saja. 

Penyesalan makin menjadi ketika pulang ke rumah, ibunya telah tewas karena bunuh diri.
Kehidupan menyedihkan Mariam pun dimulai. Ia dibawa ayahnya dan dijodohkan dengan seorang pria yang usianya 30 tahun lebih tua darinya. Mariam yang lemah tak mampu menolak apalagi berontak. Ia pun dibawa suami ke Kota Kabul.

Kehidupan pernikahan laksana penjara bagi Mariam, apalagi setelah divonis tak bisa hamil akibat keguguran di kehamilan pertamanya. Suaminya, Rasheed terus saja melakukan KDRT pada Mariam. Kehidupan Mariam benar-benar nelangsa.

Alur novel kemudian beralih ke sosok wanita lain bernama Laila. Ia merupakan tetangga Mariam namun keduanya tak pernah berjumpa mengingat kondisi Mariam yang selalu dikurung di atap rumah oleh Rasheed.

Sang novelist begitu kontras menggambarkan kehidupan Mariam dan Laila. Keluarga Laila berideologi liberal dan sangat mementingkan pendidikan. Karenanya Laila berpendidikan tinggi. Ia bahkan memiliki seorang pacar yang juga berpendidikan. Keduanya sering kali bepergian dan menonton film bersama.

Kehidupan Laila yang serba bebas ini kemudian mengalami titik balik. Keluarga Laila mengalami tragedi mengerikan hingga membuatnya hidup seorang diri. Menjadi anak yatim piatu dan miskin, Laila mau tak mau menerima kenyataan ketika Rasheed menjadikannya istri kedua.

Dari sinilah kemudian Laila dan Mariam bertemu. Keduanya kemudian menjadi sahabat karib yang sama-sama menanggung kekerasan sang suami, Rasheed. Dari sini pula Laila akan menjadi mentari bagi Mariam. Ia akan menyelamatkan hidup Mariam, dan tentu juga menyelamatkan dirinya sendiri. Namun perjuangan keduanya pastilah tak semudah membalikkan telapak tangan.

Kisah kehidupan Mariam dan Laila begitu dramatis. Apalagi ketika sampai di bagian tragedi keluarga Laila, hawa melodrama amat terasa. Bagaikan sinetron yang sulit dipercaya dapat terjadi di dunia nyata. Namun itu hanya satu kekurangan yang ditutup Khaled Hosseini dengan gaya penulisannya.

Seperti biasa, sang penulis sangat apik merangkai kata demi kata dalam novelnya hingga sukses membuat pembaca baper. Penggambaran latar Afghanistan pula begitu menakjubkan dengan bumbu sejarah dan politik. Ia pula mengungkapkan hal kekerasan, kejahatan, penyiksaan dengan sangat halus dan nyaman dibaca. 

Meski terbit sejak 2007, A Thousand Splendid Suns masih "hidup" untuk tetap menjadi bacaan di kala senggang. 

Judul: A Thousand Splendid Suns
Penulis: Khaled Hosseini
Penerjemah: Berliani M. Nugrahan
Penerbit: Qanita (Mizan)
Tahun terbit: November 2007, Mei 2011 (cetakan kedua, gold edition)
Tebal buku: 516 halaman


Kamis, 02 Maret 2017

"Assalamu'alaikum, Cantik!"; One Stop Solusi Muslimah Sejati


Hidup dan problema ibarat dua sisi mata logam, tak terpisahkan namun saling berbalik. Kita merasa bahagia ketika lepas dari segala problema. Namun sepanjang usia, problema tak akan lekang dari hidup kita. Maka kebahagiaan itu adalah ketika kita mampu hidup menghadapi problema dengan senyuman. Bagaimana caranya, buku "Assalamu'alaikum, Cantik!" mengupas dan menjawabnya untuk kita para muslimah.

Dengan bahasa sederhana dan tak menggurui, buku ini membahas segala permasalahan hidup dengan sangat cantik. Dengannya para muslimah akan tersadar satu hal; kita bukanlah sosok yang lemah melainkan tangguh dan tegar. Dengan selalu mengingat Allah, ketakutan dan sikap cengeng secara ajaib berubah bentuk menjadi perjuangan dan rasa harap.

"Assalamu'alaikum, Cantik!" laksana pemecut semangat para muslimah dalam menghadapi segala halang rintang kehidupan. Siapa yang terpecut? Mereka yang mencari jati diri, akan menemukan spesialnya pribadi. Siapa pun yang merasa kurang secara fisik, diajak mengubah sudut pandang diri.

Yang berhati takut, digerakkan keberaniannya untuk bermimpi. Yang sukar memilih, terbuka pikiran untuk membuat keputusan berani. Yang dihinggapi virus merah jambu, diarahkan pada perasaan yang halal dan alami. Merasa selalu diuji, kesabaran akan berbuah manis. Selalu dikritik dan digunjing, hadapi dengan percaya diri.

Masalah hati, cinta, orangtua, sahabat, dan masih banyak lagi pembahasan dalam buku ini. Layaknya one stop solution, buku ini memberikan segala solusi kehidupan atas masalah-masalah yang sering dialami kaum hawa. Buku ini mengajak kita mendalami setiap akar masalah, kemudian merasakannya sebagai tantangan hidup untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Selain isi yang berbobot namun ringan, buku ini pula dilengkapi kutipan-kutipan yang menyentuh hati. Beberapa kisah juga ditampilkan sebagai teladan yang menggugah jiwa.

Ditambah beberapa ilustrasi, lengkap sudah buku ini sebagai penghibur lara dan penyemangat diri para muslimah kini. "Jadilah muslimah yang setiap kehadirannya membawa kebaikan dan kepergiannya selalu dirindukan," salah satu kutipan dalam buku.

Buku ini cocok dibaca muslimah remaja ataupun dewasa. Ditulis tim Muslimahdaily, bersiaplah baper dan hanyut dalam setiap rangkaian kata-kata dalam buku ini. Baca dan rasakanlah bahwa kita tak sendirian menghadapi segala masalah pelik dunia. Kita bisa!

Judul buku: Assalamu’alaikum, Cantik!

Penulis: Muslimahdaily.com

Penerbit: Quanta

Tahun Terbit: Januari 2016

Tebal: 165 halaman



Published at: muslimahdaily.com

Kamis, 23 Februari 2017

‘Jatuh Cinta Tak Pernah Salah’ Menjawab Kegalauan Para Pencari Jodoh


Jatuh cinta memang tak pernah salah. Jatuh cinta hanyalah perasaan naluriah setiap insan. Maka bukan perasaan itu yang salah, akan tetapi bagaimana menyikapi perasaan jatuh cinta itu lah yang sering kali membuat kesalahan. Demikian gambaran besar isi buku “Jatuh Cinta Tak Pernah Salah” karya akun twitter @NegeriAkhirat.

Rasa cinta yang tak dibingkai syariat agama, justru akan menjadi petaka sang pecinta. Namun jika rasa cinta terjaga dari segala larangan Allah, maka bersiaplah menemukan jodoh yang ditakdirkan Ilahi. Ya, menemukan jodoh bukan mencarinya.

Dalam buku ini, istilah ‘mencari jodoh’ bukanlah hal yang tepat. Karena hingga bertemu dengan jodoh pendamping hidup, yang dilakukan bukanlah ‘mencari’ melainkan ‘menemukan’. Demikian yang ingin disampaikan penulis hanya dari tagline bukunya, “Sebab jodoh tidak saling mencari, tapi saling menemukan”.

Buku ini hadir menjawab kegalauan para jomblo, yakni mereka yang ingin menjaga hati dan diri dari maksiat, mereka yang ingin mencinta dengan halal hingga janur kuning melambai. Bukan hal mudah menjaga cinta dengan ikatan suci, namun setelah membaca buku ini, maka hal sulit itu dan menjadi ladang ibadah untuk mendekatkan diri pada Sang Pemilik Hati.

Berisikan kisah cinta para nabi, shahabat hingga pejuang Islam, buku ini pula memberikan tauladan yang baik bagi pembaca. Menggambarkan contoh nyata dari kisah para hamba kekasih Allah, tentu menjadi penyemangat iman untuk pembaca agar selalu menjaga hati. Beberapa cerita tauladan tersebut di antaranya yakni kisah cinta Ali dan putri Rasulullah Fathimah Az Zahra, kisah Julaibib, kisah orang tua Shalahudin Al Ayubi, kisah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar, dan lain sebagainya.

Selain itu, tak sedikit kalimat ajaib disisipkan dalam lembar demi lembar buku ini yang mampu menyentuh jiwa dan menghangatkannya. Kalimat-kalimat mutiara itu bak telaga bagi orang yang haus akan cinta. Berikut beberapa kutipan kalimat inspiratif tersebut;

“Cinta dan luka itu tak tersekat. Oleh sebab itu, aku tak mudah mengungkapkannya. Khawatir teruka dan melukai sebelum waktunya.”

“Memandangmu lalu menyukaimu itu mudah. Namun tak perah tahu tentangmu lalu cinta padamu itu lebih membahagiakan.”

“... Untuk mencintaimu, aku harus mencintai Pemilik mu dulu.”

Namun tentu ada kekurangan pada setiap buku. Dalam buku karya akun twitter yang difollow jutaan orang ini nampak sekali mengalami kemiskinan referensi. Hal tersebut terlihat saat membaca kisah-kisah cinta para pendahulu yang notabene adalah sebuah sejarah. Apalagi jika kisah itu menyebut nama Rasulullah, maka tentu hadits berderajat shahih atau setidaknya hadits hasan yang harus menjadi landasan. Mengingat bukan perkara ringan mengatakan sesuatu atas nabi yang sebetulnya bukan dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Namun dalam buku ini tak disebutkan dengan jelas dari mana kisah-kisah menarik itu berasal. Setelah melihat ‘daftar bacaan’ di halaman akhir buku, terjawab sudah mengapa kemiskinan referensi tersebut muncul. Sang penulis nyaris tak menggunakan referensi ilmiah dan banyak mengambil sumber dari internet atau blog yang tentu tak dapat dipastikan kebenarannya. Meski buku ini ditujukan untuk remaja sekalipun, referensi tetaplah sangat penting apalagi jika mengisahkan tentang para utusan Allah.

Terlepas dari kekurangan tersebut, secara garis besar, buku ini mampu menjadi penerang jalan para remaja ataupun pra-dewasa yang tengah merasakan jatuh cinta ataupun tengah bertanya-tanya perihal jodoh. Diterbitkan Qultum Media, buku ‘Jatuh Cinta Tak Pernah Salah’ ini bahkan telah menjadi buku best seller dalam daftar buku keluaran penerbit yang merupakan bagian dari grup Agro Media tersebut.

Judul: Jatuh Cinta Tak Pernah Salah
Penulis: @negeriakhirat
Penerbit: Qultum Media
Tahun Terbit: Agustus 2016
Tebal: 152 halaman (13 x 19 cm Hard cover)

Published at: muslimahdaily.com

Kamis, 16 Februari 2017

Resensi “Tentang Kamu” Karya Tere Liye; Bersiaplah Menguras Air Mata


Tere Liye memang sangat jenius dalam mengaduk perasaan para pembaca setiap novelnya. Di karya terbarunya kali ini, “Tentang Kamu”, ia pun mampu membuat air mata pembaca tumpah ruah tak tersisa.

Novel “Tentang kamu” sedikit berbeda dari karya Tere Liye yang jumlahnya hingga angka puluhan. Di tajuk kali ini, sang penulis produktif ini pertama kalinya menggunakan bahasa dialek setempat. Padahal sang novelis yang juga berprofesi sebagai akuntan ini selalu menggunakan bahasa Indonesia meski mengambil setting di daerah. Sebut saja novel "Hafalan Shalat Delisa” yang berlatar di Kota Aceh, serta “Rindu” di Kota Makassar. Keduanya tetap menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan antar tokohnya.

Adapun alur kisah, berawal dari seorang pria asal Indonesia bernama Zaman Zulkarnaen yang tinggal di Inggris. Ia merupakan mahasiswa Universitas Oxford dan bekerja sebagai junior associate di sebuah firma hukum ternama di Belgrave Square, Kota London.

Suatu hari, ia ditugaskan menangani sebuah kasus yang menjanjikan peningkatan kariernya menjadi pengacara. Namun kasus tersebut ternyata sangat berat dan membutuhkan perjuangan sekaligus pengorbanan.

Kasus yang ditangani Zaman tersebut merupakan penyelesaian harta waris seorang wanita warga negara Inggris yang kaya raya. Jumlah harta yang diwariskannya begitu melimpah hingga setara harta Ratu Inggris.

Ada tiga hal yang membuat kasus tersebut sangat berat. Pertama, sang wanita menghembuskan nafas terakhir di panti Jompo Kota Paris, Perancis. Kedua, ia tak meninggalkan selembar pun surat wasiat kecuali hanya buku diary kisah perjalanan hidupnya. Ketiga, wanita tersebut bukan lah kelahiran Inggris melainkan seorang Jawa asli Indonesia. Wanita itu bernama Sri Ningsih.

Kisah inti novel “Tentang Kamu” ini ternyata menceritakan kehidupan Sri Ningsih. Sosok Zaman hadir sebagai pengantar pembaca menelisik kehidupan Sri karena dalam kisah, dia lah yang kemudian menelusuri setiap catatan diary wanita tersebut.

Pindah dari satu kota ke kota lain, dari negara satu ke negara lain, Zaman mengikuti jejak kehidupan Sri demi menemukan kerabat yang akan mewarisi kekayaan yang melimpah. Namun tentu hal itu tidaklah mudah. Pasalnya, Zaman harus menelusuri ruang dan waktu untuk menemukan rangkaian kehidupan kliennya.

Kisah Sri pula ternyata memiliki banyak kejutan yang sangat menarik. Kisahnyalah yang mampu mengaduk-aduk perasaan pembaca hingga menumpahkan semua air mata yang ada. Kisah yang berawal dari buku diary, namun ternyata mencakup setiap relung kehidupan Sri semenjak lahir di Sumbawa hingga meninggal seorang diri di Paris.

Bagaimana kisah persahabatannya yang dipenuhi kedengkian dan pengkhianatan teman, kisah cinta yang amat sangat melankolis, hingga kisah perjuangannya mendirikan usaha satu ke usaha lain dengan penuh peluh. Setiap alurnya dibawakan penulis dengan sangat mengalir hingga pembaca akan hanyut dalam segala rasa yang ada di hati Sri.

Selain kisahnya yang menarik, novel ini pula memiliki kelebihan lain dalam hal kutipan. Tak sedikit kata-kata mutiara menyentuh hati yang dituangkan Tere Liye dalam novel kali ini. Salah satu contohnya, "Karena dicintai begitu dalam oleh orang lain akan memberikan kekuatan, sementara mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh akan memberikan kita keberanian.”

Mungkin hanya satu kekurangan dalam novel, yakni pengisahan sosok Zaman yang terlalu minim diungkap. Bagaimanapun juga, Zaman merupakan sosok brilian yang mampu menarik perhatian pembaca tanpa mengalihkan fokus kisah kehidupan Sri.

Meski demikian, hal tersebut tak mengurangi harga kecakapan penulisan novel “Tentang Kamu”. Novel ini pula tak mengenal gender ataupun usia pembaca, karena semua kalangan sangat cocok membacanya. Bagaimana, tertarik membaca?

Judul: Tentang Kamu

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Republika Penerbit

Waktu terbit: November 2016

Tebal: 530 halaman (13,5 x 20.5 cm).

Published at: muslimahdaily.com

Kamis, 09 Februari 2017

Buku Seri Parenting Penggugah Jiwa Orangtua



"Apa yang menyebabkan anak-anak itu mengalami kesulitan di masa dewasanya? Bukan sulitnya kehidupan. Bukan pula kecilnya pendapatan. Tetapi kekeliruan orang tua dalam mengasuh mereka."

Demikian sebuah kutipan ringan dari buku "Segenggam Iman Anak Kita" karya Mohammad Fauzil Adhim. Hanya sebuah kutipan ringan namun sangat mengena di hati para orang tua. Kalimat demi kalimat menggugah hati tersebut tak hanya satu, namun dapat ditemui di tiga buku tema parenting karya Fauzil Adhim, yakni "Saat Berharga untuk Anak Kita" (2009), "Segenggam Iman Anak Kita" (2013), dan "Positive Parenting" (2015).

Mendidik anak bukanlah perkara mudah. Banyak hal yang dihadapi bahkan sejak anak masih dalam buaian. Kerewelan mereka, jerit tangis, kenakalan hingga kelabilan mereka saat menginjak usia remaja. Perlu ilmu pendidikan anak atau parenting untuk menghadapi semua itu. Lalu ilmu parenting seperti apakah yang patut diteladani? Fauzil Adhim menjawabnya dalam setiap buku karyanya.

Ia menggabungkan ilmu psikologi Barat dengan khazanah Islam yang amat kaya. Dengannya, pembaca tak hanya dibawa pada teori-teori modern tentang kejiwaan anak, melainkan diajak belajar bagaimana keberhasilan muslimin di era Rasulullah dalam mendidik putra-putri mereka.

Sebagaimana yang ditulis Fauzil dalam bukunya "Saat Berharga untuk Anak Kita". Ia menyebutkan, "Banyak orang tua yang berhasil mendidik anaknya bukan karena kepandaiannya mendidik anak, tetapi karena doa-doa mereka yang tulus."

Menanamkan keimanan dalam jiwa anak, itulah salah satu hal yang ditekankan dalam parenting, menurut Fauzil yang berlatar belakang pendidikan psikologi ini. Pria yang juga aktif menulis di majalah Hidayatullah tersebut juga memberikan banyak contoh bagaimana keimanan dapat berdampak luar biasa di dalam keseharian anak hingga menjadi bekal saat dewasa kelak.

Keimanan dan masa depan anak. Perkara tersebut kemudian melahirkan pertanyaan kepada para orang tua. Apa harapan mereka pada anak-anak, akan jadi apakah anaknya kelak. Apakah seorang yang cerdas dan berprestasi tinggi, ataukah seorang yang harus lebih hebat dari orang tuanya, ataukah justru seorang yang dapat mengirim pahala saat orang tua wafat.

"Pada akhirnya perjalanan hidup kita akan berhenti pada suatu titik yang bernama kematian. Seluruh yang kita usahakan terhenti, tak lagi mengalirkan pahala bagi kita kecuali tiga perkara saja, yakni sedekah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak-anak shalih yang mendoakan. Di saat itu, apakah yang paling kita harapkan dari anak kita? Adakah kita telah menyiapkan anak-anak untuk dapat memasuki masa depannya; berbakti pada agama dan kedua orang tua? ataukah, kita hanya membekali mereka untuk mencari penghidupan belaka?" dikutip dari "Positive Parenting".

Demikian gambaran umum perihal mendidik anak. Rincian bagaimana pendidikan itu diterapkan, apa saja langkah yang harus ditempuh, atau sikap dan tindakan orang tua seperti apa yang dapat menanamkan keimanan anak dan melahirkan anak yang siap menghadapi masa depan dunia dan akhirat, dapat ditemukan dalam tiga buku parenting karya Fauzil Adhim.

Dengan bahasa yang renyah dan mengalir, Fauzil sukses membawa karyanya menjadi penggugah jiwa para orang tua. Mungkin Anda akan merasa bodoh, tersinggung, bahkan berdosa ketika membaca ketiga buku parenting karya pria kelahiran Mojokerto tersebut. Beragam teori psikologi juga dipaparkan dengan sangat apik. Banyak pula hal ideologis yang diangkat, namun tidak serta merta kehilangan hal praktis.

Tak ada gading yang tak retak. Dalam beberapa hal, pastilah ada kekurangan dari seorang Fauzil Adhim. Rangkaian bab yang tak bersambung serta pembahasan yang berulang menjadi kekurangan buku-buku terbitan pro-U Media tersebut. Kendati demikian, ketiganya sangat layak menjadi rujukan para orangtua dalam mendidik anak-anak mereka.


Published at: muslimahdaily.com