Kamis, 15 Februari 2018

[Cerpen] Blogger Syar’i 23.59





Blogger Syar’i 23.59





OH NO! Ku ketik alamat blogku berkali-kali, namun yang muncul hanya halaman putih dengan sebuah kotak ajaib. Miris, kotak itu bertajuk “Domain Expired”. Segeralah jemariku meluncur ke email. Ternyata ubek punya ubek, email pemberitahuan masa kedaluwarsa itu masuk ke spam, dan benar-benar menjadi ‘spam’ ketika isinya persis seperti tukang kredit panci yang menggedor keras di tanggal tua.

Aish! Bahkan blogku pun bisa membalas dendam. Aku lebih dahulu mencampakkannya, dan sekarang saat kubutuhkan ia mencampakkanku. #melow

Status itu kubiarkan begitu saja. Antara harap-harap posting, entah diposting atau dimasukkan saja dalam hati. Dua jarum jam sudah nyaris berduet ria, kompak menunjukkan ada kerlip bintang di atas sana.

“Besok deadline lomba, bagaimana nasib tulisanku....” dengan deret panjang huruf u yang akhirnya mengantarkanku pada kantuk. Mungkin lihat saja besok.


* * *
Sekian bulan sebelum insiden expired.

“Aku ini freelance writer, bukan freelance blogger,” kataku pada cermin.
“Apa bedanya?” jawab cerminan hati.
“Hmm, aku ini penulis konten website syar’i, bukan blogger yang cool.”
“Apa bedanya?”
“Hmm, yang kutulis artikel Islam, nasihat agama. Kalau blogger kan biasanya gaul, ala-ala ngaskus, atau ala-ala selebgram, ala-ala traveller, ala-ala motivator, atau malah ala-ala chef.”
“Apa bedanya?”
“Hmm, Yaaa.. sama-sama nulis sih...”

Setelah perdebatan kalbu yang sengit, akhirnya kuputuskan mengurus kembali blogku yang semangat membaranya hanya di dua bulan pertama. Apalagi di masa membara itu ada promo domain yang nyaris tak ada harganya namun angka rupiahnya sangat tinggi saat perpanjangan setahun mendatang.

Namun semangat 45 di awal ternyata berubah menjadi semangat milenial. Alhasil hanya cara praktis yang dianut untuk menghidupkan kembali blogku. Namun ternyata cara praktis itu justru membuat blogku mendapat readers dan viewers. Bagaimana tidak? Hasil tulisan freelanceku untuk website Islam kuposting ulang disana. Sangat praktis dan yang penting, tak perlu menulis dua kali. Satu-satunya yang layak diapresiasi hanyalah blogku menjadi lebih valuable karena berkonten syar’i, bernafaskan dakwah.

* * *

“Coba 7 Langkah Ini Agar Shalat Lebih Khusyu” tajuk itu kutulis dalam sebuah aplikasi poster maker. Setelah layak visual, kuposting di media sosial, lengkap dengan link isi artikel secara lengkap yang bisa dibaca di blogku.

Tak hanya medsos, kusebar via WhatsApp Group. Link blog wajib dicantumkan. Dan, dalam hitungan menit, artikel itu masuk dalam daftar post favorit di blogku.

Thats cool! Teriakku dalam benak saja. Kalau terdengar para blogger bisa malu setengah mati. Mengingat keberhasilan pertamaku itu hanya satu buih dibanding jumlah kunjungan yang diterima para blogger sungguhan. Tapi setidaknya, aku lebih bersemangat untuk memposting kembali artikel demi artikel ke dalam blogku. Walaupun sekedar artikel daur ulang dan aku hanyalah blogger jadi-jadian.

Beberapa hari kemudian, aku tahu cara lebih canggih. Yakni mengupload banyak artikel dalam satu waktu dengan posting terjadwal. Aku baru tahu ada cara ajaib men-setting jadwal posting dan lebih ajaib lagi, itu adalah layanan free dari pelayan blog. Pengetahuan baru yang kuanggap canggih lagi ajaib itu ternyata membuahkan nyinyir dari suami. Mungkin karena di dahiku tertulis jelas kata “norak” atau “gak gaul”, atau bahkan “emak era 80-an”.



* * *

5 Bulan Menuju Expired.

Hei! Blogger syar’i yang tetap cool ini mulai penuh ambisi. Ternyata di luar sana banyak iklan menarik tentang lomba blog. Koreksi! yang menarik bukan iklannya, melainkan hadiahnya. Dari uang tunai, hingga barang branded selalu ditawarkan para penggiat lomba. Lalu aku pun tergiat menjadi salah satu lomba hunter.

Lomba demi lomba kuikuti. Temanya beragam, dari review produk, opini, hingga fotografi. Blog bertema syar’i menjadi campur aduk layaknya urap di tanah Jawa, atau karedok di tanah Sunda. Lalu, adakah kelezatan dibalik campur aduk itu? Jawabannya, tidak. Jangankan produk branded, hadiah t-shirt pun tak pernah sampai di rumahku.

Sepertinya rasa cepat puas lah yang menguasai diri dibandingkan ambisi. Baru mendapat viewer dua digit saja girangnya norak bukan main. Faktor keluguan emak-emak juga turut membutakan mata hati hingga tak tahu diri. Semua orang bahkan tahu bahwa lomba blog sejatinya adalah lomba jumlah viewer. Atau setidaknya, pengetahuan itu kudapat setelah kegagalan sekian kali mengikuti lomba blog.

* * *


Hari Expired, H-1 Deadline Lomba

Kekalahan lomba demi lomba mematikan blogku. Semangat posting saja sudah redup. Konten blog pun terlanjur acak adut. Terhitung dua bulan sudah blog itu tak lagi hidup. Hingga hari expired domain tiba dan aku tak menyadarinya.

“Harga perpanjang domain=Rp 250.000. Harga Domain Baru= Rp 200.000”

Angka itu kupandangi saja tanpa aksi. Jelas itu bukan uang yang banyak bagi sebagian orang. Namun harga itu hampir separuh honor menulis freelance selama sebulan. Mirisnya, honor itu kini datang terlambat sangat.

Kurogoh dompet, tak tega rasanya mengambil lima lembar uang biru dari anggaran belanja. Itu artinya akan mengurangi jatah membeli daging dan udang. Lagi pula, perpanjangan domain tak bisa dibayarkan secara cash.

“Aaaak... Blogku... Lombaku...” Kusut sudah kerudungku akibat tanganku sendiri.
“Masih ikut-ikutan lomba blog???” tanya dia, suamiku. Jelas, bukan hanya dia yang bingung. Aku sendiri bingung mengapa masih berkutat dengan material bernama lomba.
“Ini beda. Ini bukan lomba blog, tapi lomba cerpen,” mungkin ini alasanku.
“Lalu, ada apa dengan blog?”
“Ya karena lombanya menulis cerpen bertema blogger, harus diposting di blog.”
“Ya itu lomba blog namanya.”
“Bukan, ini lomba cerpen.” Tegasku sembari ketap-ketip menunggu tawaran seperempat juta dari rekeningnya. “Bayarin?” Aku meringis, antara nyengir dan miris.
“Kamu balikin aja ke alamat blogspot. Yang penting bukan domainnya, tapi isinya.”

Jleb! Jawaban dia adalah anak panah tertajam setahun ini yang menancap tepat di antara jantung dan hati. Belum lagi setelah ada kata “mubazir”, makin menembuslah anak panah itu.

* * *

6 Jam Sebelum Deadline

Duh! menyetting ulang blog cukup ribet. Terutama bagi emak-emak kalut sepertiku. “Tenang-tenang. Bukankah aku memang deadliner si pengirim di jam 23.59!”

Pergantian hari dalam definisiku adalah pergantian detik. Selama detik belum menunjukkan waktu nol kali empat, maka hari ini masih bisa diubah, deadline lomba masih bisa dikejar.

Kulirik jam, dua jarumnya tak lagi akur dan saling menjauh hingga enam jam ke depan. Mouse terus kugerakkan. Keyboard terus ditekan. Lomba itu mungkin baru akan kukirim satu detik sebelum pergantian hari di waktu syamsiah. Kecuali jika ada keajaiban tentunya. Tentang menang atau tidak lomba itu, aku tak tahu. Namun tentang kembali menjadi blogger muslimah yang cool, aku tahu tekad itu.


by. afrizahan.blogspot.co.id















Afriza Web Developer

2 komentar:

  1. Subhanallah inspiratif mbah blog syar'i nya

    BalasHapus
  2. masyaAllah kereeennn bangeeeedddd qaqaaaaaaaaa. kala diizinkan, farah mau kenal lebih dekat untuk belajar dan berguru hehe

    BalasHapus