Tampilkan postingan dengan label Baby. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Baby. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Maret 2017

Mudah Tanpa Pola, Jahit Sendiri Celana Anak Kita Yuk



Tak perlu pandai menjahit, tutorial celana anak ini bisa dipraktikan sahabat Abi Ummi bahkan hanya dengan waktu kurang dari satu jam saja.

Apakah sahabat Abi Ummi harus merogoh kocek setiap bulan untuk membeli set pakaian anak? Tentu tak sedikit yang melakukannya, mengingat pertumbuhan si kecil begitu cepat. Baru dipakai beberapa kali, baju sang buah hati sudah kekecilan, celana anak pun sudah kependekan. Apalagi jika sahabat Abi Ummi masih memiliki anak balita, sudah barang tentu belanja pakaian anak menjadi keharusan.

Mengurangi budget yang besar itu, bagaimana jika kita buat sendiri pakaian si kecil. Belajar membuat celana anak kiranya dapat menjadi awal yang mudah. Tak perlu pandai menjahit, tutorial yang dikutip dari sewdelicious.com.au ini bisa dipraktikan sahabat Abi Ummi bahkan hanya dengan waktu kurang dari satu jam saja.

Langkah Pertama Membuat Celana Anak
Siapkan bahan kain celana sesuai yang diinginkan. Untuk musim panas ini, baiknya menggunakan kain katun agar menyerap keringat. Jika untuk persiapan musim penghujan, bisa gunakan bahan tebal sweater. Panjangnya dibutuhkan ukuran tubuh si kecil. Biasanya, untuk celana ukuran 3, diperlukan setengah meter kain.
Siapkan pula gunting atau cutter (cutter lingkaran lebih mudah), karet untuk pinggang, contoh celana anak yang ukurannya paling nyaman (untuk contoh pola), mesin jahit. Jika tidak memiliki mesin jahit, menjahit dengan tangan juga bisa ya sahabat Abi Ummi.



Langkah Kedua Membuat Celana Anak

Balik celana contoh agar bagian dalamnya berada di luar, kemudian lipat sama bagian tengahnya. Letakkan celana diatas kain yang juga sudah dilipat menjadi dua, untuk mempermudah gambar polanya (garis pink pada foto). Bisa pula langsung memotong kain sesuai ukur contoh celana.




Langkah Ketiga Membuat Celana Anak
Berdasar potongan kain pada langkah kedua, buat satu buah potongan lagi.



Hasil potongan kain akan terlihat seperti ini:




Langkah Keempat Membuat Celana Anak
Buka dua potongan kain tadi. Tempelkan sisinya sama rata dengan posisi kain terbalik. Jahit pada garis Pink seperti pada foto dibawah ini:




Langkah Kelima Membuat Celana Anak
Buka kain hasil langkah keempat tadi. Jahit bagian bagian sisi dari pergelangan kaki sampai mata kaki.




Langkah Keenam Membuat Celana Anak
Lipat kain bagian pinggang, buat sarung untuk menempatkan karetnya. Pastikan karetnya muat. Saat membuat sarung tempat karet ini, sisakan 3-4 cm untuk celah karet masuk.



Langkah Ketujuh Membuat Celana Anak
Yang terakhir, masukkan karet dengan bantuan peniti. Jahit celah kain. Sebagai tambahan, sahabat Abi Ummi dapat menambahkan pita sebagai pembeda antara celana bagian depan dan belakang. Selipkan pita kecil saat membuat sarung karet.



Celana pun siap digunakan si kecil. Selamat mencoba sahabat Abi Ummi.






Rabu, 22 Februari 2017

Buah Kaya Nutrisi untuk MPASI

Credit image: newkidscenter.com

Wajib bagi ummi memasukkan menu buah untuk MPASI bayi. Kandungannya yang kaya vitamin dan mineral sangat bagus untuk tumbuh kembang si kecil.

Buah-buahan mengandung banyak vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh bayi. Di awal MPASI, para pakar Food combining sangat menganjurkan pemberian buah untuk MPASI bayi. Karena selain bermanfaat untuk pertumbuhan, buah juga sangat bagus untuk menutrisi otak.

Tentunya tidak semua jenis buah cocok diberikan pada bayi ya, Ummi. Meski menurut WHO tidak ada pantangan makanan bagi bayi selama tak alergi, namun pemilihan jenis makanan yang kaya nutrisi perlu diperhatikan. Dari sekian banyak jenis buah, ada beberapa buah yang sangat kaya nutrisi sehingga cocok untuk diberikan sebagai MPASI.

Berikut beberapa jenis buah untuk MPASI bayi:

Pisang
Pisang mengandung potasium yang bermanfaat memberikan energi. Buah kuning ini juga dap menekan asam pada lambung sehingga bermanfaat mengatasi sembelit yang sering diderita bayi. Selain kaya nutrisi, tekstur pisang juga cocok di lidah bayi yang baru mulai MPASI. Pisang dapat disajikan dalam bentuk puree untuk bayi.

Pepaya
Pepaya mengandung empat jenis vitamin sekaligus, yakni vitamin A, B, C dan E. Bahkan kandungan vitamin C pepaya jauh lebih besar dari apel. Manfaat buah manis ini yakni dapat mencegah perusakan sel-sel di dalam tubuh. Berikan pepaya yang sudah diblender atau puree pepaya untuk MPASI bayi. Rasa manisnya akan disuka buah hati.

Melon
Buah jenis labu ini mengandung serat pangan yang dapat memenuhi hampir 10 persen nutrisi harian yang dibutuhkan tubuh. Rasanya yang manis dan aromanya yang harum akan memikat adik bayi. Ummi dapat memberikan si kecil jus melon dengan ditambah ASI ataupun susu formula.

Berry
Segala jenis Berry, baik strawberry, blueberry, blackberry maupun Cherry, kaya akan vitamin C dan anti antosianidin, yakni antioksidan dalam takaran tinggi. Dengan mengonsumsi buah-buahan jenis Berry tersebut, bayi akan terlindungi dari radikal bebas yang dapat menyebabkan banyak penyakit. Untuk penyajian, buah-buahan Berry dapat menjadi campuran bubur susu untuk si kecil.

Selain empat buah diatas, beberapa buah lain yang cocok untuk MPASI perdana si kecil yakni alpukat, mangga, pir, jeruk baby, semangka, jambu biji, dan apel. Untuk jenis buah yang keras seperti pir dan apel, kukus dahulu sebelum dihaluskan ya Ummi.

Selain itu, perhatikan pula kondisi buah saat membeli. Jangan pilih buah yang sudah keriput dan terlalu masak. Saat hendak diolah, pastikan pula buah sudah dicuci bersih.
Demikian beberapa jenis buah untuk MPASI bayi. Selamat berbelanja buah segar untuk si kecil, Ummi.

Published at: abiummi.com

Rabu, 15 Februari 2017

Si Kecil Demam, Perlukah ke Dokter Anak?

Credit image: metroparent.com


Demam sering kali dialami si kecil. Entah itu demam karena flu, pasca imunisasi, atau bahkan saat tumbuh gigi. Lalu, kapan anak perlu di bawa ke dokter?

Ketika buah hati demam, kita sebagai orang tua pasti merasa sedih dan bingung.
Kebingungan itu pun berdampak panik saat anak mulai rewel, enggan makan, lemas, muntah, diare, serta keluhan lain saat demam. Lalu kita pun bersegera membawa si kecil ke dokter anak.

Namun ternyata, menurut Indonesian Pediatric Society (IDAI), 30 persen total kunjungan anak ke dokter merupakan kasus demam. Padahal demam bukanlah penyakit, melainkan reaksi normal tubuh terhadap virus ataupun kuman yang masuk.

Lalu jika hanya reaksi tubuh, apakah artinya tidak perlu ke dokter anak? Tentu jawabannya tidak. Ada kondisi tertentu yang mengharuskan demam si kecil perlu konsultasi dokter anak.
"Jika anak lebih sering tidur, malas minum dan buang air kecil semakin jarang, segera bawa anak ke dokter." demikian tulis IDAI dalam webnya.

Lebih rinci, menurut American Academy of Pedriatic (AAP), sangat penting untuk memeriksa suhu si kecil. Jika suhu tubuhnya sudah di atas batas standar, maka harus segera dibawa ke dokter anak. Standar tersebut menurut AAP sebagai berikut.


  • Untuk anak di bawah 3 bulan, maka segera hubungi dokter jika suhu tubuhnya lebih dari 37,9 derajat celcius.
  • Anak usia antara 3-6 bulan, maka segera hubungi dokter jika suhu tubuhnya lebih dari 38,3 derajat celcius.
  • Kemudian untuk usia diatas 6 bulan, maka suhu tubuh diatas 39,4 derajat celcius menjadi tanda untuk membawa si kecil ke dokter anak.

Jadi jika si kecil sakit, jangan terlalu panik kemudian terburu-buru ke dokter anak. Sahabat abiummi dapat melakukan home treathment terlebih dulu.

Menurut IDAI lagi, terapi fisik dapat dilakukan untuk menurunkan suhu tubuh. Terapi tersebut di antaranya kompres air hangat dan beri minum dalam jumlah banyak.

Adapun obat penurun panas, atau yang sering dikenal dengan parasetamol, hanyalah untuk kenyamanan anak. Jadi jangan berharap parasetamol akan menurunkan demam sang buah hati, ya sahabat abiummi. Kembali lagi pengetahuan awal bahwasanya demam adalah reaksi normal tubuh. Kalau anak demam, artinya tubuh si buah hati bereaksi sebagaimana mestinya. Demam itulah pertahanan tubuh si kecil dalam melawan virus, bakteri ataupun infeksi.

Demikian sahabat abiummi. Yuk jangan panik saat anak sakit. Rawat si buah hati namun tetap pantau kondisinya. Menjadi dokter untuk anak, mengapa tidak.


Published at: abiummi.com

Jumat, 10 Februari 2017

Bunda, Begini Cara Shalat Sambil Gendong Bayi

credit image: rumahkeluargaindonesia.com



Alhamdulillah, syariat ini dibawa Rasulullah dengan banyak sekali kemudahan, keringanan dan pengecualian dalam ibadah. Meski tengah menghadap Ilahi, seseorang dibolehkan menggendong anak ataupun bayi.

Bagi muslimah yang telah dianugerahi buah hati, menggendong anak saat shalat menjadi kebutuhan darurat. Banyak kondisi yang mengharuskan ibu muslimah melakukannya. Sebut saja kondisi bayi yang menangis saat ditinggal shalat, atau anak mengganggu dengan memanjat punggung ibunda yang tengah bersujud. Bolehnya shalat sambil menggendong anak juga seringkali dibutuhkan ibu saat shalat di masjid, atau bahkan saat shalat hari raya.

Kendati dibolehkan, ada syarat yang harus dipenuhi. Pertama, shalat menggendong bayi hanya dilakukan saat ada kebutuhan. Jadi tidak serta-merta anak digendong saat shalat padahal saat itu anak tenang atau tidak mengganggu. Adapun syarat kedua, pastikan anak suci lagi bersih dari najis. Syarat berikutnya, mengikuti tata cara yang benar sebagaimana dicontohkan

Nabi Muhammad. Lalu bagaimana cara yang dicontohkan Rasulullah tersebut? Berikut hadits yang mengabarkannya. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menggendong cucunya, Umamah bintu Zainab Bintu Muhammad Rasulullah. Hadits mengenai hal tersebut disampaikan oleh Abu Qatadah radhiyallahu anhu , ia berkata,

"Saya melihat Rasulullah shalat mengimami para Sahabat sambil menggendong Umamah bin Abi al-Ash, anak Zaenab putri beliau shallallahu‘alaihi wasallam, di atas bahunya. Maka apabila ruku, beliau meletakkannya dan apabila selesai sujud, beliau menggendongnya kembali." Pada jalur riwayat lain, disebutkan "Apabila berdiri beliau menggendongnya dan apabila sujud beliau meletakkannya." (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Terdapat pula fatwa yang menjelaskan rinci kebolehan dan cara shalat sambil menggendong anak. Dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin saat ditanya apakah seorang ibu boleh menggendong anaknya saat shalat. Syaikh menjawab bahwa shalat sambil menggendong anaknya tidak mengapa bila anaknya dalam keadaan suci dan memang butuh digendong. Syaikh berkata, hal tersebut mungkin terjadi karena anaknya menangis dan bisa menyibukkan si ibu apabila tidak  menggendongnya.

"Telah pasti kabar yang datang dari nabi yang menyebutkan beliau pernah shalat sambil menggendong cucu beliau Umamah binatu Zainab bintu Rasulullah Ketika itu Rasulullah shalat mengimami orang-orang dalam keadaan Umamah dalam gendongan beliau. Bila berdiri, beliau menggendong Umamah dan di saat sujud beliau meletakkannya. Apabila seorang ibu melakukan hal tersebut maka tidak apa-apa, tetapi yang lebih utama tidak melakukannya melainkan jika ada kebutuhan.” (Nurun ‘alad Darb, hlm. 17), dikutip dari web darussalaf.

Maka telah jelas bagi kita perihal tata cara yang benar saat shalat menggendong anak. Jika dirinci dengan terang maka sebagai berikut;

Pertama, ketika takbiratul ihram, posisi anak ada pada gendongan kita. Lalu kedua, saat ruku, taruh anak di dekat tempat sujud. Demikian posisi anak seperti itu hingga sujud kedua usai. Ketiga, yakni saat bangkit dari ruku, ambil kembali si anak dan gendong ia kembali. Demikian seterusnya hingga rakaat shalat usai.

Hal lain yang mungkin perlu diperhatikan yakni kelapangan tempat shalat. Tentu kita harus lebih memilih kelapangan tempat shalat, terutama saat shalat berjamaah. Jangan sampai keberadaan anak kita mengganggu jamaah lain saat menaruhnya di tempat sujud. Selain itu, perlu perhatian ekstra pula untuk anak yang masih bayi ataupun balita. Penggunaan popok yang baru serta jaminan tidak tembus menjadi perhatian kita sebelum memulai shalat.

Demikian syariat ini memberi keringanan. Tata caranya pun telah diajarkan oleh Rasulullah melalui hadits beliau diatas. Selepas ini, tak perlu ragu lagi untuk menggendong anak saat shalat.

Published at: muslimahdaily.com

Selasa, 24 November 2015

Mengolah Havermut untuk MPASI



Pusing memilih menu apalagi yang ingin disajikan untuk si kecil? Atau tak menemukan resep masakan bayi yang cocok dan praktis dibuat? Yuk coba buat Makanan Pendamping ASI (MPASI) dari havermut, Bunda.

Sebagai pengetahuan dasar, havermut merupakan jenis sereal gandum. Kita mungkin lebih mengenalnya dengan oatmeal. Ummi bisa mendapatkan havermut di swalayan dengan berbagai brand. Namun jangan salah pilih antara havermut instan dan non instan ya. Untuk membuat havermut instan, Ummi hanya perlu menambahkan air panas. Adapun jenis non instan, havermut perlu dimasak di atas api.

Adapun secara khasiat, havermut mengandung banyak nutrisi yang dapat menurunkan kolesterol jahat, mengurangi kadar gula hingga meningkatkan imun. Dengan banyaknya manfaat tersebut, havermut sangat cocok diberikan untuk bayi dan anak.

Selain dijadikan bubur, havermut juga dapat digunakan sebagai bahan membuat kue. Adapun untuk menu adik bayi, havermut dapat diolah bersama sayuran ataupun daging. Sejak usia 6 bulan, bayi sudah diizinkan mengonsumsi jenis pangan utama sarapan para bule tersebut.

Jika masih bingung mengolah havermut untuk buah hati, berikut resep masakan bayi berbahan havermut yang dapat Ummi praktikan di rumah. Resep ini diambil dari buku “101 Menu MPASI Sehat” karya Ayu Bulan Febry, S.KM dan Cr. Zulfito Marendra.

Bubur Havermut Sari Sayuran

Bahan:
25 gram kacang merah, cuci bersih
750 ml air
50 gram wortel, dikupas kemudian potong dadu kecil
50 gram brokoli, dicincang
50 gr havermut
20 gr keju

Cara membuat:

1.       Rebus kacang merah dengan airi hingga empuk, kemudian campurkan wortel dan brokoli, rebus hingga lunak.
2.       Angkat sayuran dan biarkan air rebusan tetap di panci.
3.       Masukan havermut sedikit demi sedikit ke dalam air rebusan sayur. Aduk sampai mengental, angkat.
4.       Campurkan sayuran rebus dan keju parut ke dalam havermut. Aduk dan saring dengan saringan khusus atau masukkan ke blender dan haluskan.
5.       Tuang ke dalam mangkuk kecil dan sajikan selagi hangat.

Nilai gizi per porsi:
Energi                   : 80,1 kkal
Protein                 : 6,2 g
Lemak                   : 1,9 g
Karbohidrat        : 10,1 g


Demikian resep masakan bayi menggunakan bahan havermut. Praktis dan mudah kan Bunda. Adik bayi pasti suka dengan tekstur havermut yang lembut ditambah rasa manis dari sayuran serta asin dari keju. Selamat mencoba.