Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Juni 2020

Anak Gemar Berteriak dan Memukul? Hadapi dengan 4 Tips Ini, Bunda

Image: Pexels.com



Selain tantrum, anak terkadang bersikap terlalu aktif dan agresif. Berawal dari kesal, mereka melampiaskan emosi dengan berteriak dan memukul. Sikapi mereka dengan lembut, bunda, berikut tips mengatasi perilaku agresif pada anak. 


  1. Bawa ke Tempat Aman dan Beri Nasihat



Hal pertama yang bisa dilakukan saat menghadapi anak yang agresif ialah dengan memindahkan mereka dari tempatnya. Bawa si kecil ke tempat yang santai, jauh dari pemicu keagresifannya. Sebab, perilaku agresif bermula dari perasaan tidak aman yang dirasakan anak. 


Setelah itu, beri penjelasan bahwa sikapnya salah dan dapat mengganggu bahkan mencelakakan orang lain. Perilaku berteriak dan memukul merupakan sikap spontan yang anak tunjukkan karena mereka tak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka tak memahami akibat dari perbuatannya. Karena itulah, penjelasan dan nasihat yang baik dapat membuatnya mengerti dan tak lagi mengulangi. 


  1. Seringlah Memuji Anak



Untuk menghadapi sikap negatif pada anak, cobalah untuk memberi pujian acap kali buah hati melakukan hal baik. Pujian yang diberikan pun harus jelas dan bukan sekedar berkata “Bagus!”, “Hebat!”, “Pintar”, dan sebagainya. 


Beri pujian pada anak dengan menyebut sikap apa yang perlu dipuji. Jadi bukan asal memuji ya Bunda. Contohnya, “Kakak sudah membereskan mainan dengan rapi, bagus sekali!”, “Abang sudah berbaik hati meminjamkan mainan ke teman, keren deh!”.


  1. Beri Aturan dan Terus Ingatkan


Buatlah aturan tentang larangan berteriak dan memukul. Pastikan anak memahami dan mengingatnya. Beri penjelasan rinci tentang aturan tersebut, bahwa si kecil tidak boleh memukul, menggigit, ataupun mencakar, saat bermain dengan teman-temannya. 


Tambahkan pemahaman agama bahwasanya muslimin dilarang melukai orang lain. Itu adalah perbuatan tercela yang dibenci Allah dan Rasulullah. Beri pemahaman janji surga yang luar biasa indah jika menjadi anak baik dan tidak suka mengganggu ataupun melukai orang lain. 


  1. Cari Penyebabnya



Cara selanjutnya untuk menghadapi anak yang agresif ialah dengan mencari penyebabnya. Terkadang, anak bersikap agresif karena kurang perhatian dari ayah bunda. Dalam kasus lain, mereka agresif karena cemburu dengan kehadiran adik bayi. Dapat pula perasaan kesal pada teman menjadi pemicu si kecil bersikap berlebihan. 


Carilah penyebab anak agresif lalu atasi. Dalam beberapa kasus, anak juga harus dalam pengawasan penuh jika sikap agresif nya sudah pada tingkatan berbahaya. Mengingat perilaku seperti ini tidak hanya ditujukan pada orang tua, melainkan semua orang yang dianggap anak sebagai ancaman. 


Demikian bunda, beberapa tips dan cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi, bahkan menghilangkan, sifat agresif pada anak. Lakukan keempat nya dengan baik agar anak tak lagi gemar berteriak dan memukul di luar kendali. 



Sumber bacaan:
-”Cara Mudah Merawat Bayi, Batita, dan Balita.” Ghaniya Vaniyusha, Dr. Kusnandi Rusmil, SpA(K). 
-”Komunikasi dengan Anak” Materi Kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. 

#parenting #parentingislam



Sabtu, 11 November 2017

Visi, Misi dan Kurikulum Homeschooling Faruq


credit image: pioneerwoman.files.wordpress.com



Visi, Misi dan Kurikulum Homeschooling Faruq ‘Abdurrahman Fa’iq
(Keluarga Afriza Hanifa dan Ahmad Fa’iq)


VISI DAN MISI


VISI
Membangun generasi yang saleh, penghafal Al Qur’an dan Al Hadits, pengikut Sunnah Rasulullah dan Khulafa Ar Rasyidin, berkepribadian, cerdas akal dan budi, serta mengambil peran untuk umat Islam.

MISI
Mendidik keturunan yang mengilmui, menerapkan dan berkomitmen dalam perkara akidah, ideologi Islam, syariat Islam, dan akhlak al karimah;
Mendidik keturunan yang mampu berperilaku positif dan islah (melakukan perbaikan) pada diri sendiri, orang lain, lingkungan, alam sekitar, komunitas muslim pada khususnya dan dunia pada umumnya;
Mendidik keturunan yang mampu mengetahui potensi diri, mengambil peran dalam peradaban, menjadi agen perubahan, dan mengambil peran manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Rincian Pendidikan dan Kualifikasi anak yang diharapkan:

1.    Mendidik anak berakidah lurus dan menjauhi syirik
§ Anak mengenal Allah satu-satunya Rabb
§ Memahami tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma wa Shifat
§ Mengenal keburukan syirik kecil dan besar
OUTPUT:
Anak selalu bersyukur kepada Allah,
Menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya,
Melakukan segala aktivitas yang sesuai dengan hukum Allah,
Melakukan segala perbuatan dengan tujuan ikhlas kepada Allah Ta’ala,
Mencintai Allah dan selalu merasa diawasi oleh-Nya,
Memiliki perasaan takut akan azab Allah dan harap akan karunia-Nya,
Anak bersih dari segala dosa syirik.

2.    Mendidik anak berkomitmen dalam ideologi Islam
§  Anak memahami Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhai Allah
§  Mengenal Islam sebagai jalan hidup dan gaya hidup
§  Bangga menjadi seorang muslim
OUTPUT:
Anak termotivasi untuk belajar Al Qur’an dan Al Hadits sepanjang hayat;
Anak selalu istiqamah dalam keimanan dan keislaman.

3.    Mendidik anak rukun iman
§  Anak memahami keimanan kepada Allah dengan keyakinan yang kokoh
§  Memahami dan meyakini eksistensi malaikat, nabi dan rasul, Al Qur’an sebagai firman Allah, hari akhir dan takdir.
OUTPUT:
Anak selalu beramal baik karena memahami bahwa segala perbuatannya akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak;
Anak memahami bahwa ada penjaga malaikat dan tak perlu takut pada syaitan;
Anak beramal baik karena meyakini ada malaikat yang selalu mencatat segala tingkah lakunya;
Anak menjauhi hal buruk karena melawan syaitan dan menjadikan syaitan sebagai musuh utama;
Anak meneladani nabi dan rasul;
Anak meyakini bahwa Al Qur’an adalah firman-Nya yang otentik dan sumber segala ilmu;
Anak memahami konsep takdir dengan keyakinan yang utuh.

4.    Mendidik anak menerapkan dan mencintai syariat Islam yang dibawa Rasulullah
§  Anak meneladani Rasulullah sebagai idola, tuntunan dan suri tauladan
§  Anak memahami bahwa syariat Islam telah sempurna dibawa Nabiyullah Muhamad
OUTPUT:
Anak mengidolakan Rasulullah dan mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wasallam;
Mengaplikasikan segala sunah Rasulullah di segala aspek kehidupan dan rutinitas sehari-hari.

5.    Mendidik anak berperilaku akhlakul karimah dan berkepribadian
§  Anak memiliki akhlak yang baik pada Allah
OUTPUT:
Dekat dengan Allah, biasa berdoa dalam rutinitas harian, berdoa dan meminta apapun hanya kepada Allah, melaksanakan ibadah sunah (shalat malam, rawatib dan dhuha minimal tiga kali dalam sepekan di usia 14 tahun), terbiasa rutin membaca zikir pagi dan petang, membaca dan menghafal Al Qur’an rutin setiap hari, membaca dan menghafal Al Hadits rutin, beribadah dengan ikhlas tanpa disuruh dan melakukannya dengan benar, gemar berpuasa dan bersedekah, bercita-cita menunaikan ibadah haji.
§  Anak memiliki akhlak yang baik pada orang tua
OUTPUT:
Mengaplikasikan birrul walidain, menghormati guru dan orang yang lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda.
§  Anak memiliki akhlak yang baik pada manusia
OUTPUT:
Berakhlak baik pada muslim (saling tolong menolong, menasihati dan menerima nasihat, melakukan amar ma’rufnahi Munkar, menggunakan lisan tangan dan hati saat melihat keburukan), bersikap baik pada non-muslim (menghormati dengan batasan “Bagiku agamaku dan bagimu agamamu”), memahami batasan pergaulan lawan jenis sesuai aturan Islam.
§  Anak memiliki akhlak yang baik pada alam dan lingkungan
OUTPUT:
Memahami konsep manusia sebagai khalifah di muka bumi, memanfaatkan kekayaan alam dengan bijak, menjaga dan melestarikan alam, berkarya atau produktif dengan memanfaatkan kekayaan alam dengan bijak.
§  Anak memiliki kepribadian
OUTPUT:
Anak memiliki karakter: Baik hati, sederhana, murah hati, ramah, sopan, adil, rendah hati, pemaaf, jujur, memenuhi janji, rela berkorban, penuh cinta, peka dan peduli, inisiatif, humoris, pemberani, bersahaja, tulus, bertekad kuat, gigih, rajin/giat, pantang menyerah, suka menolong, tidak berlebihan, qana’ah, wara’, dapat dipercaya, dapat diandalkan, berjiwa pemimpin, mandiri, percaya diri, optimis, peduli sosial, santun, supel, dan sabar.

6.    Mendidik anak mengenal potensi diri dan mengambil peran dan perbaikan dan peradaban
§  Anak memahami dan menyalurkan bakat yang dimiliki
§  Anak menemukan passion di antara hobi
§  Memahami bahwa bakat adalah anugerah dari Allah
§  Menjalankan passion tanpa melanggar syariat-Nya
§  Memanfaatkan potensi diri untuk maslahat banyak orang
OUTPUT:
Memiliki budaya belajar, membaca, menulis dan berkarya sepanjang hayat;
Bercita-cita untuk mengambil kontribusi untuk umat;
Memilih profesi yang berguna untuk banyak orang;
Mengenal variasi peran di berbagai bidang (ilmiah, kepemimpinan, profesi, dan finansial);
Mampu menentukan spesifikasi ilmu yang dipelajari dan peran yang diambil untuk umat pada usia 14 tahun;
Mampu menjalankan peran tersebut di usia 21 tahun.







KURIKULUM PENDIDIKAN FARUQ (DI USIA 3-4 TAHUN)

Perkembangan Agama/Moral, Kognitif, Bahasa, Sosial-Emosi, Fisik/Motorik, Sensori, dan Seni Sesuai cheklist indikator dalam Permendikbud No 137 Tahun 2014, Pengembangan PAUD Non Formal, Kurikulum Diknas 2007, dan Slow & Steady Get Me Ready Karya June R. Oberlander (Boleh didownload disini dan disini).
Tambahan pendidikan agama terangkum dalam buku Panduan Mendidik Anak Muslim Usia Pra Sekolah karya Abu Amr Ahmad Sulaiman (Sangat rekomended untuk dibeli).

Kurikulum per Bulan (Salah Satu Contoh):

BULAN: Oktober 2017 (Usia Faruq 3y1m)
TEMA: Hewan

AGAMA
·      Menghafal Surat Al Fatihah,
·      Menghafal doa dan mempraktekkan adab bangun tidur,
·      Menghafal dan menerapkan hadits “Innallaha jamiilun yuhibbu-l-jamaala” (Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan),
·      Pengetahuan tauhid dasar
·      Sirah: Mengenal nama Nabi Muhammad
·      Memahami Siapa Tuhanmu? Apa Agamamu? Dan Siapa Rasulmu?

MORAL
·      Mengucapkan salam
·      Menyebut hewan adalah ciptaan Allah
·      Menyayangi ciptaan Allah

KOGNITIF
·      Mengenal hewan darat (pekan 1 dan 2), hewan laut (pekan ke-3) dan hewan udara (pekan ke-4)
·      Membedakan hewan berdasar tempat tinggal dan jenis makanannya
·      Mengurutkan benda kecil-sedang-besar

BAHASA
·      Memahami kata tanya Apa dan Siapa
·      Membaca kisah Nabi Nuh, Yahya dan Shaleh (bersama hewan darat),  Nabi Yunus dan ikan paus, Nabi Sulaiman dan Burung Hud-hud

SOSIAL-EMOSI
·      Menyebut nama dan jenis kelamin diri
·      Menyebut nama keluarga inti

FISIK/MOTORIK
·      Lompat maju, mundur dan dari ketinggian <20 cm
·      Pretend Play hewan darat, laut dan udara
·      Menggunakan gunting dan resleting (practical Life skills)

SENSORI
·      Sensory Bin kebun binatang, salju dari es dan padang pasir buatan
·      Konstruktif Playdoh Sea animals

SENI
·      Melukis hewan dengan cat (finger paint, kuas dan stamp)
·      Bernyanyi lagu kisah hewan dan para nabi


Aktivitas bermain sesuai kurikulum ada di IG @afrizahanifa



Referensi Kurikulum:
Panduan Mendidik Anak Muslim Usia Pra Sekolah karya Abu Amr Ahmad Sulaiman;
Permendikbud No 137 Tahun 2014;
Pengembangan PAUD Non Formal, Kurikulum Diknas 2007;
Slow & Steady Get Me Ready Karya June R. Oberlander;

Ide Aktivitas Anak:
Rumah Main Anak Karya Julia Sarah Rangkuti.

Rabu, 25 Oktober 2017

Surat untuk Anakku

Rappler


Assalamu’alaikum anakku, surat ini berasal dari Ummah, ibu yang selalu memiliki cinta segenap jiwa, untukmu, tanpa syarat dan tanpa iba. Entah di usia berapa kau membaca surat ini. Ummah menulis di antara kegelapan malam, sembari memandangimu terlelap dengan indahnya.

Saat Ummah menulis surat ini, usiamu hampir genap tiga tahun dalam hitungan hari ke depan. Tulisan ini adalah ungkapan memori dan hati untuk mengenang masa-masa menakjubkan sejak melahirkanmu. Bahkan sebetulnya, sehelai surat tidaklah cukup untuk mengatakan semuanya. Akan tetapi, butuh jutaan buku untuk menuliskannya.

Faruq putraku, jika orang bilang anak adalah buah hati seorang ibu, maka kau lebih dari itu. Kau adalah inti hatiku, kedalaman jantungku yang membuatnya terus berdetak. Ummah tidak berlebihan mengatakannya. Detak jantung itu pernah berhenti barang sedetik ketika kau tiba-tiba jatuh dari tempat tidur yang tinggi saat usiamu baru hitungan pekan. Pun saat kau tiba-tiba terjungkal dan tertimpa sepeda di usia tahun kedua. Banyak momen menghantam jantung hati Ummah yang pasti telah kau lupakan saat dewasa.

Apa kau tahu, saat itu kau sangat lucu dan pintar. Ummah hanya menempelkan huruf dan angka di dinding tempatmu bermain. Tak butuh waktu lama untukmu menghafal semuanya. Ibu-ibu teman sepermainanmu bahkan merasa iri melihatnya. Kau pun mengenal semua warna ketika teman seusiamu masih menangis dan merengek. Kau selalu berbicara ini dan itu hingga memecah tawa setiap orang yang mendengarnya.

Lebih dari semua itu, kau selalu berbagi mainan kepada teman-temanmu dan tak pernah menyakiti mereka. Kau bahkan gemar menyapa dan mengajak mereka bermain ke rumah meski pada akhirnya mainanmu menjadi kotor, berantakan dan tak sedikit yang rusak. Namun kau tak pernah menangisinya dan keesokan hari kembali mengajak mereka bermain.

Ummah berharap, kau selalu menjadi anak manis seperti itu bahkan meski usiamu telah menginjak belasan bahkan puluhan. Tak perlu bersikeras untuk meraih sesuatu, percayalah bahwa Allah memberimu kecerdasan. Yang perlu kau lakukan hanyalah berusaha lebih giat lagi. Jangan lupakan hati untuk menebar kebaikan di manapun kau berada. Percayalah bahwa Allah selalu membalas kebaikan dengan kebaikan yang lebih baik lagi.

Wahai putraku yang sejuta sayangku kau miliki, apa kau tumbuh dewasa dengan bahagia? Apakah Ummah masih ada di sampingmu saat kau membaca surat ini? Pertanyaan-pertanyaan itu adalah sebuah kekhawatiran terdalam yang selalu Ummah rasakan sejak kau terlahir di dunia. Masih teringat dalam benak Ummah di tiga malam pertama sejak kelahiranmu, air mata berlinangan deras hanya karena khawatir apa kau bisa hidup dengan baik jika Ummah tiba-tiba tak ada di sisimu. Sungguh sebuah kekhawatiran semu namun berhasil membuat mata Ummah sembab di pagi hari hingga nenek dan kakekmu merasa khawatir.

Ketahuilah nak, Ummah memiliki sebuah doa spesial yang tak pernah lekang di setiap sujud, yakni doa agar kau diberi umur panjang yang berkah dan tumbuh menjadi seorang pria yang selalu berjalan lurus tanpa goyah sekalipun. Doa itu bahkan sering kali melupakan Ummah untuk meminta kesempatan agar dapat menjagamu, mendidikmu dan mencintaimu hingga terkabulnya doa spesial itu. Jika Ummah dianugerahi kesempatan, maka Ummah akan memilih untuk mencintaimu dengan cinta yang lebih banyak agar kau bisa selalu mengingat dan menyayangi Ummah, sebagaimana Ummah yang selalu mengingatmu dan menyayangimu detik demi detik, tahun demi tahun.

Jika berandai-andai tentang sebuah kesempatan, maka Ummah ingin mengulang waktu. Ummah ingin berusaha lebih keras agar dapat meminum suplemen dan makanan bergizi saat kau berada di rahimku. Maafkan Ummah yang selalu saja muntah dan tak bertenaga sejak hari pertama kehamilan bahkan menjelang kelahiranmu. Akibatnya, tubuhmu sangat mungil saat berjumpa dengan dunia.

Jika waktu benar-benar dapat diulang, maka Ummah ingin berusaha lebih giat agar kau dapat berlarian sepuasnya di tanah lapang, bermain hujan dan berkotor ria, membongkar semua isi lemari, menumpahkan air dan menjadikannya genangan, mengejar dan menangkap serangga liar, hingga memanjat jendela dan lemari. Kenyataannya, kau selalu terbatas untuk melakukan semua itu hanya karena alasan lelah yang Ummah rasakan.
Maafkan Ummah yang terlalu lemah hingga terus saja mengeluh lelah karena harus mengurusmu sembari mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri. Ummah selalu saja merebahkan diri dan enggan bermain denganmu seusai membersihkan rumah, memasak, merapikan barang, hingga mencuci dan menyetrika baju. Andai Ummah tak mudah lelah, perkembangan motorik kasarmu mungkin akan jauh lebih baik. Kau tak perlu lagi kesulitan saat menyeimbangkan badan, melompat tinggi dan mengayuh sepeda.  

Sayangnya semua itu tak mampu diulang. Ummah selalu menyesal di pagi hari karena tak berbuat lebih banyak untukmu di hari kemarin. Demikian hari demi hari berlalu hingga kau tumbuh besar tanpa Ummah sadari. Setiap tahun yang Ummah lalui bersamamu seakan hanya berlangsung sekedipan mata, teramat singkat. Kau bertambah usia dan Ummah bertambah tua. Kau bertambah besar dan Ummah bertambah bahagia.

Hanya ada dua kata dari Ummah yang perlu selalu kau ingat; maaf dan terima kasih. Maafkan Ummah yang tak pernah sempurna menjadi ibumu dan terima kasih karena kau selalu menjadi anak sempurna untukku. Ummah selalu mencintai dan menyayangi Faruq.

Salam kecup dengan sarat doa untukmu Faruq anakku.

Ditulis pada akhir Juli 2017.

(Ummah) Afriza Hanifa.



Note:
"Surat untuk anakku: Maaf dan terima kasih" menang dalam kompetisi menulis dalam rangka Hari Anak Nasional yangdiadakan Rappler. Link: https://www.rappler.com/indonesia/ayo-indonesia/176428-surat-untuk-anakku

Rabu, 15 Maret 2017

10 Langkah Ini Mendidik Anak Berjiwa Wirausaha

Credit Image: readbrighty.com

Perihal ilmu dunia, sains dan musik rupanya masih menjadi fokus utama para orang tua untuk diajarkan pada buah hati. Padahal ilmu bisnis pun akan memberikan jejak positif bagi anak saat ia dewasa kelak. Bukan hal mustahil menanamkan jiwa wirausaha pada anak kita sejak usia dini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebagaian besar sahabat beliau merupakan para wirausaha. Bahkan sang nabiyullah telah memulainya di usia belia. Di usia 8 tahun, sang utusan Allah telah mengembala kambing. Kemudian di usia 12 tahun, beliau pun telah turut serta dalam kafilah dagang pamannya, Abu Thalib. Tentu pengalaman Rasulullah ini menjadi teladan yang utama kan sahabat abiummi.

Lalu, bagaimana cara mengajarkan anak perihal bisnis? Dikutip dari majalah Inc versi online, seorang motivator yang juga CEO Extreme Youth Sports (EYS), Duane Spires, menyebutkan sedikitnya ada sepuluh langkah mengajarkan anak berbisnis dan mengarahkannya agar berjiwa wirausaha.

1. Membuat Goal
Pertama, minta anak menulis daftar goal impian mereka. “Goal” di sini merupakan tujuan utama yang kemudian akan menjadi fokus perhatian anak untuk diraih. Dalam pelaksanaannya, orang tua akan memberikan semangat dan memberi daftar langkah-langkah untuk meraih goal tersebut. “Apakah kalian tahu bahwa 80 persen goal yang ditulis itu besar kemungkinannya dapat terwujud? Itu sangat mungkin,” ujar Spires.

2. Memuji
Kedua, ajarkan anak menemukan peluang. Caranya yakni dengan memuji anak acap kali ia menemui masalah meski itu kecil, kemudian membimbing mereka. Puji mereka meski buah hati tak mampu menyelesaikan masalah itu dengan benar, misal ia tak mampu meraih benda tinggi, menumpahkan makanan, dan sebagainya. Kebiasaan tersebut menurut Spires merupakan brainstrom solutions yang akan mengajarkan anak fokus pada solusi daripada masalah itu sendiri.

3. Ajarkan Perihal Uang
Kemudian langkah berikutnya yakni ajarkan anak agar mereka melek finansial. Orang tua dapat mengajarkan anak bagaimana menghasilkan uang. Mulai dengan bisnis kecil-kecilan didampingi Sahabat abiumi, kemudian buatkan mereka rekening tabungan sendiri.

4. Biarkan Anak Berkreasi
Langkah selanjutnya, biarkan anak berkreasi kemudian kaitkan dengan ide pemasaran. Ajak anak mengamati poster, spanduk, iklan, dan sebagainya. Lalu biarkan mereka berkreasi dengan membuat ajakan pemasaran serupa, baik dengan menggambar, ataupun meniru kalimat-kalimat iklan televisi.

5. Jangan Menghukum
Kelima, jangan menghukum anak jika mereka mendapat nilai jelek di sekolah. Jika terjadi demikian, jangan memarahi anak akan tetapi berbincanglah dengan mereka perihal penyebab kegagalan itu kemudian ajak anak tak mengulangi kesalahannya.

6. Ajarkan Sopan Santun
Poin berikutnya yakni ajarkan anak berkomunikasi dengan baik serta bersikap sopan santun. Orang tua juga perlu sesekali ajak anak saling berkirim email agar kecakapan komunikasi si buah hati berkembang.

7. Beri Kebebasan
Kemudian beri kebebasan pada anak. Tahukan sahabat abiummi, bahwa dengan mendengarkan keinginan mereka, orang tua menanamkan sikap percaya diri pada anak.

8. Ajak Berjualan
Langkah selanjutnya, ajarkan anak cara berjualan. Hal ini dapat dilakukan misal dengan mengajak anak menjual mainan lama mereka.

9. Ajarkan Leadership
Poin selanjutnya, bangun karakter kepemimpinan pada anak. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengajak anak bermain dan anak sebagai pemimpin permainan. Selain itu dapat pula meminta mereka berpidato saat makan malam.

10. Teori Giving Back
Kemudian yang terakhir, terapkan sifat rendah hati dan menanamkan ide bahwa “giving back” memberikan kebahagiaan hidup. Ajak anak anda membagi keuntungan atau pun uang mereka kepada yang membutuhkan.

Demikian 10 langkah yang dapat diterapkan dalam mendidik buah hati ya Sahabat Abiummi. Dengan mengajarkan sepuluh langkah diatas, maka Sahabat Abiummi sudah membentuk karakter wirausaha pada jiwa anak. Jika seluruh langkah berhasil diterapkan sahabat abiummi, bukan mustahil buah hati akan menjadi seorang entrepreneur di kemudian hari.

Published: abiummi.com