Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Maret 2017

Kisah Wanita Penjaga Benteng

ilustrasi

Hari baru saja memasuki fajar. Cahaya mentari membuat siluet putih di atas langit. Para wanita dan anak-anak masih berlindung di balik benteng. Mereka diliputi kekhawatiran akan nasib suami, ayah dan anak mereka yang tengah bertempur di jalan Allah. Mereka menunggu harap cemas akan kemenangan perang kali ini, yakni perang khandaq.

Sesosok wanita mulia selalu mengawasi dari balik benteng. Dialah Shafiyyah bintu Abdul Muthalib, bibi Rasulullah dan ibunda dari shahabat Zubair bin Al Awwam. Sebetulnya telah ditugaskan beberapa orang mujahidin untuk melindungi benteng muslimin. Namun Shafiyyah merasa harus selalu sigap dan berjaga-jaga.

Perasaan Shafiiyah benar adanya. Pagi itu, benteng muslimin kosong dari para mujahidin. Rupanya mereka tengah sibuk menghadang pasukan Quraisy di ujung Khandaq hingga lupa atas penjagaan benteng. Hampir-hampir benteng itu diserang musuh seandainya Shafiyyah yang cerdik tak sigap kala itu.

Saat itu ia melihat sesosok bayangan tengah mengendap endap mendekati benteng. Shafiyyah pun segera menajamkan pandangan dan pendengarannya. Ia kemudian mengetahui bahwa sosok mencurigakan itu adalah seorang Yahudi yang tengah memata-matai benteng muslimin.

Saat perang Khandaq, pasukan Quraisy memang mendapat bala bantuan dari kaum Yahudi Bani Quraizhah. Padahal, bani tersebut telah membuat perjanjian damai dengan muslimin. Namun rupanya, mereka telah melanggar perjanjian yang berarti mereka boleh diperangi.

Shafiyyah tahu betul bagaimana Bani Quraizhah melanggar perjanjian. Tak heran jika kemudian mereka mengirim mata-mata untuk menumpas muslimin di titik terlemah, yakni para wanita dan anak-anak.
Pastilah si mata-mata ini tak tahu bahwa tak ada pasukan penjaga benteng. Pastilah ia tengah mencari tahu jikalau benteng ini hanyalah didiami wanita dan anak-anak. Demikian pikir Shafiyyah.

"Kalaulah satu musuh Allah ini mampu lolos dan memberitahu kaumnya tentang kondisi kami, tentu Yahudi ini akan menawan dan menyandera para wanita serta memperbudak anak-anak. Maka ini akan menjadi musibah besar bagi kaum muslimin," ujar Shafiyyah dalam hati.

Sang shahabiyah cerdik ini pun segera mengencangkan pakaiannya, memakai kudung dan mengambil tongkat. Dengan berani, ia menuju gerbang benteng untuk melawan si Yahudi. Dengan kehati-hatian dan kecerdikan, Shafiyyah keluar benteng dan mengendap ke arah si musuh.

Hingga saat posisinya telah dekat dengan si Yahudi, Shafiyyah segera memukulnya dan melempar tongkatnya ke arah kepala musuh Allah. Berkali-kali diserangnya si Yahudi hingga tewas. Tak hanya itu, kepala sang musuh dipenggalnya kemudian dibawanya ke atas benteng. Lalu dilemparkan kepala tersebut ke luar benteng tempat pasukan Yahudi menunggu.

Sungguh cerdas Shafiyyah. Apa yang ia lakukan tersebut rupanya untuk menjadikan peringatan bagi pasukan Yahudi dan agar tak diketahui bahwa benteng kosong dari para penjaga.

Benar, begitu pasukan Yahudi melihat kepala si mata-mata yang mereka utus, merindinglah mereka. Pemimpin mereka berkata, "Sungguh kami tahu bahwa Muhammad tidak mungkin meninggalkan para wanita dan anak-anak tanpa ada yang menjaga dan melindungi mereka." Maka pasukan Yahudi itu pun bertolak mundur dan batal menyerang benteng.

Luar biasa apa yang telah dilakukan Shafiyyah. Seorang wanita yang tak pernah memegang belati tersebut mampu membunuh musuh dengan gagah berani. Dialah wanita pertama muslimin yang mampu menbunuh musuh Allah. Ia lah wanita muslimin pertama yang berlakon layaknya mujahidin di medan perang. Shafiyyah binti Abdul Muthalib, wanita pertama yang membunuh seorang musyrik dalam sejarah Islam. Semoga Allah merahmatinya dengan keindahan surgawi.

Sabtu, 18 Maret 2017

Kisah Menakjubkan Sahabat Rasulullah Terkaya

Credit Image: musliminc.com


Dialah Abdurrahman bin 'Auf, sahabat Rasulullah yang mendapat nikmat kekayaan di dunia serta kebahagiaan di akhirat. Siapa yang tak ingin seperti beliau. Bagi akhiratnya, beliau merupakan satu dari 10 shahabat Rasul yang dijanjikan surga. Di dunia, beliau menjadi orang terkaya dengan harta melimpah.

Namun cobaan harta tidaklah mudah. Beliau seringkali menangis karena hartanya yang berlimpah. Beliau takut hartanya akan menyulitkannya di akhirat kelak.

Suatu hari, sepinggan makanan lezat dihidangkan untuk Abdurrahman bin 'Auf. Saat itu beliau sedang berpuasa. Namun bukan memakannya, sang shahabat justru menangis tersedu. Ia pun enggan menyentuh makanan tersebut.

"Allah bukakan dan bentangkan dunia ini untuk kami semua. Aku khawatir pahala dan balasanku dipercepat di dunia ini," ujarnya.

Padahal, beliau merupakan salah satu shahabat Rasulullah yang sangat dermawan. Bagaimana mungkin harta menjadi balasan pahala jikalau harta itu diberikannya untuk kepentingan umat Islam.

Dialah shahabat yang menyumbang separuh hartanya saat Rasulullah kekurangan pasokan perang. Bahkan ia menyumbang seluruh hartanya saat Rasulullah membutuhkan perbekalan untuk Perang Tabuk. Sampai-sampai Umar bin Khattab berkata,

"Sungguh aku melihat 'Abdurrahman bin 'Auf telah berdosa. Ia telah menyumbangkan seluruh hartanya tanpa menyisakannya untuk keluarga," ujar Umar kepada Rasulullah.
Maka Nabiyullah pun bertanya pada Abdurrahman mengenai kondisinya tersebut, "Apakah engkau meninggalkan sesuatu untuk keluargamu, wahai Abdurrahman?"

Dengan yakin Abdurrahman menjawab, "Ya, aku bahkan meninggalkan untuk mereka sesuatu yang lebih banyak," ujarnya.

"Berapakah jumlahnya?" tanya Rasulullah.

"Sebanyak janji Allah dan Rasul-Nya, yakni berupa balasan kebaikan, pahala dan ganjaran," jawab Abdurrahman enteng.

Kedermawanan Abdurrahman tak terkira dan tak tertandingi. Namun tidaklah hartanya habis setelah disedekahkan, justru semakin banyaklah hartanya. Allah begitu banyak melimpahkan harta kepadanya. Sehingga Abdurrahman pun terus saja memikirkan kondisinya di akhirat kelak. Ia terus saja takut bahwa hartanya akan menyulitkannya pada hari akhir.

Suatu hari di masa tuanya, Abdurrahman bin 'Auf mendengar sebuah hadits dari Aisyah. Sang ummul mukminin pernah mendengar Rasulullah berkata bahwa kelak Abdurrahman bin 'Auf akan menuju surga dengan merangkak.

Mendengarnya, Abdurrahman begitu sedih. Ia memang selalu khawatir bahwa hartanya akan menyulitkannya kelak. Beliau pun bertekad agar dapat menuju surga dengan berjalan tegak.

"Aku akan lakukan apa saja agar aku bisa masuk surga dengan berdiri, wahai Ummul Mukminin. Persaksikanlah semua kafilah dagangku ini beserta bawaan mereka dan pelana serta segalanya aku infakkan di jalan Allah," ujar Abdurrahman.

Padahal, sang shahabat Rasul ini memiliki kafilah dagang yang jumlahnya sangat banyak. Suatu hari, saat kafilah dagang Abdurrahman memasuki Kota Madinah, terhitung sebanyak 700 orang jumlahnya. Setiap dari mereka menunggang unta dan membawa segala kebutuhan manusia baik makanan hingga perhiasan. Bahkan dikisahkan, kota seakan bergoncang dengan kedatangan para kafilah dagang tersebut.

Semua harta melimpah itu kemudian dishadaqahkan di jalan Allah. Ia memenuhi kebutuhan seluruh ummul mukminin karena saat itu Rasulullah telah wafat. Ia pula memenuhi kebutuhan para mujahid yang berperang di jalan Allah. Bagi Abdurrahman, tiada hari tanpa berinfaq.

Tak hanya itu, selepas kematiannya, ia berwasiat agar memberi sebagian hartanya utuk seratus mujahidin perang Badr. Masing-masing dari mereka mendapat sebesar 400 dinar emas. Abdurrahman juga memberi harta yang banyak kepada para ummul mukminin. Ia juga membebaskan semua budak miliknya.
Setelah membagi-bagi hartanya tersebut, Abdurrahman bin 'Auf pun wafat dengan tenang. Turut mengantarkan jenazahnya, paman Rasulullah Sa'ad bin Abi Qaqqash serta Utsman bin 'Affan dan Ali bin Abi Thalib. Semoga Allah merahmati beliau.

Published at: muslimahdaily.com

Senin, 13 Februari 2017

Nabi Musa dan Batu yang Berlari

credit image: discovermagazine.com


Nabi Musa dituduh dan dicela Bani Israil bahwa beliau 'alaihissalam memiliki cacat  yang sangat buruk pada tubuhnya. Umat beliau dengan lancangnya menyebarkan gosip bahwa sang nabi yang memberikan petunjuk ke jalan terang melalui Taurat tersebut memiliki penyakit kulit yang menjijikan.

Itulah Bani Israil, mereka memang selalu menghina bahkan membunuh nabi-nabi mereka. Bahkan kepada nabi yang telah membebaskan mereka dari kekejaman Fir'aun sekalipun.

Tuduhan kepada nabiyullah Musa bermula karena beliau enggan melepas baju acap kali mandi di sungai. Tentu sang utusan Allah malu jika auratnya nampak. Namun tidak demikian dengan Bani Israil. Mereka terbiasa dan tak merasa malu untuk mandi di sungai tanpa mengenakain pakaian.

Selain itu, sang utusan Allah juga enggan mandi bersama dan memilih menyendiri karena takut auratnya tersingkap. Melihat kebiasaan Nabi Musa tersebut, Bani Israil justru bukan memujinya melainkan berprasangka buruk. Mereka pun mulai mengucapkan hal-hal buruk megenai nabi mereka.

"Tubuh Musa cacat sehingga ia malu melepas pakaian dan mandi bersama kita," demikian tuduhan mereka.

Mendengar gosip yang tersebar di tengah umatnya tersebut, Nabi Musa hanya diam saja. Sang nabiyullah terbiasa dengan perlakuan semena-mena umatnya. Beliau hanya bersabar dan memilih bungkam. Namun Allah tidak tinggal diam. Allah akan selalu membela utusan-Nya meski urusan kecil sekalipun. Allah tak akan biarkan nabi-Nya dihina.

Suatu ketika Nabi Musa mandi seperti biasa. Beliau kemudian menaruh pakaian di atas batu. Tak sangka, atas kehendak Allah Ta'ala, batu itu berlari sangat kencang. Benda mati itu tiba-tiba hidup dan membawa lari pakaian Nabi Musa. Saudara Harun tersebut pun segera mengejar batu yang berlari itu.

"Wahai batu... Bajuku... Bajuku..." demikian teriak rasul Allah sembari mengejar batu yang enggan berhenti atas perintah Allah.

Batu tersebut kemudian melewati sekumpulan orang dari Bani Israil. Nabi Musa pun masih terus mengejarnya. Dengannya, Allah membuka tabir Musa dan memperlihatkan pada Bani Israil bahwa nabi mereka tak cacat sedikitpun. Sebaliknya, tubuh sang nabi sangat tegap dan elok.

Bani Israil yang melihatnya pun kemudian menarik tuduhan mereka. "Demi Allah tak ada cacat pada Musa," ujar mereka. Maka segala gosip mengenai cacatnya Nabi Musa pun hilang.

Sementara si batu, ia berhenti ketika tugasnya dari Allah selesai. Setelah Allah menampakkan kesehatan tubuh Nabi Musa di hadapan Bani Israil, si batu tiba-tiba berhenti, atas perintah Allah. Nabi Musa pun dapat meraih batu tersebut dan segera mengenakan pakaian beliau kembali.

Lalu dengan tongkatnya, Nabi Musa memukul si batu nakal yang membawa kabur baju beliau. Beliau geram pada si batu yang membuat tubuhnya tersingkap di hadapan kaum Israil. Dikisahkan bahwa si batu bahkan memiliki bekas tiga pukulan tongkat Nabi Musa.

Sungguh Maha Agung Allah yang telah membela nabi-Nya dan menjadikan benda mati dapat berlari layaknya makhluk. Kisah Nabi Musa dan batu ajaib yang mampu berlari ini dikabarkan oleh Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan Imam Al Bukhari.

Ada hikmah yang patut diambil dari kisah di atas. Selain keharusan menghormati nabi dan Rasul, Allah menunjukkan kebesarannya dengan menghidupkan benda mati. Jika di dunia Allah dapat membuat sebongkah batu dapat berlari, maka sudah tentu sangat mudah bagi Al Khaliq untuk membuat benda-benda mati berbicara untuk menjadi saksi di akhirat. Maka kelak, tangan, kaki dan anggota tubuh lain dapat mengabarkan sejujurnya perihal segala perbuatan pemiliknya di dunia.

Published at: muslimahdaily.com