Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Mei 2017

Kisah Beo yang Bersyahadat

Credit image: petyak[dot]com


Alkisah, dahulu ada seorang syaikh ternama yang mempunyai banyak santri. Suatu ketika, salah seorang santri beliau memberi hadiah seekor burung beo. Syaikh begitu gembira dan merawat beo itu dengan sangat baik. Kemana pun syaikh pergi, beo itu selalu ikut serta. Bahkan setiap kali syaikh mengisi majelis, beo itu pun diajak pula ke masjid. Alhasil, si beo selalu mengucapkan kalimat agung "Lailahailallah", karena memang kalimat itu lah yang sering diucapkan sang syaikh.

Si burung beo selalu mengucapkan kalimat syahadat tersebut setiap waktu. Entah pagi, siang, malam, beo milik sang syaikh begitu cerewet bersyahadat. Karena tingkah laku si beo tersebut, banyak orang menyukainya. Pun demikian dengan sang syaikh. Si beo menjadi hewan peliharaan kesayangannya dan selalu dirawat dengan istimewa. Syaikh gembira karena kalimat syahadat selalu menghiasi rumahnya. Tentu karena kalimat mulia itu selalu dilantunkan oleh si beo. Layaknya dzikir, lantunan syahadat terus terdengar di mana pun beo itu berada.

Hingga suatu hari, para murid syaikh dilanda kebingungan. Sang syaikh tak hadir di majelis dan absen mengajar. Hal yang tak biasa, karena sang syaikh terkenal sangat disiplin dan rajin menyampaikan ilmu. Apa gerangan yang terjadi, demikian para santri mengkhawatirkan guru mereka. 

Keesokan harinya, sang syaikh tak hadir lagi di masjid. Para santri makin bertanya-tanya. Jika syaikh ada urusan, pastilah beliau akan mengatakannya kepada para santri. Namun sudah dua hari syaikh tidak memberi kabar apapun. Hingga hari ketiga, syaikh tetap absen mengajar. Beberapa santri pun kemudian memutuskan untuk pergi mengunjungi rumah syaikh. Mereka ingin tahu alasan syaikh tak hadir di masjid untuk mengajar. "Mungkin beliau tengah sakit," ujar salah seorang santri.

“Atau mungkin beliau tengah safar ke tempat yang jauh,” kata seorang lain.
“Sudahlah jangan menebak-nebak. Lebih baik kita percepat langkah menuju rumah syaikh,” seorang santri menengahi. 

Sesampainya di rumah syaikh, mereka mendapati sang guru dilanda duka yang teramat sangat. Matanya sembab, air matanya bercucuran, tubuhnya tersungkur penuh duka. Sang syaikh yang wibawa itu menangis sejadi-jadinya. Tentu para santri terkejut melihatnya. Mereka pun segera berkerumun di dekat syaikh. 

Salah seorang santri kemudian bertanya heran, "Wahai syaikh, gerangan apa yang membuat anda menangis pilu?"

Sang syaikh kemudian mengatakan bahwa burung beo kesayangannya telah menemui ajal. Para santri makin dibuat heran, bagaimana mungkin syaikh menangis sesegukan hanya karena burung peliharaannya telah mati. 

"Wahai syaikh, jikalau hanya karena beo, kami bisa membelikan beo lagi untuk Anda," tutur seorang santri lain.

“Betul syaikh, janganlah bersedih, kami akan membelikan seekor beo lain untuk Anda,” seorang santri lain menimpali.

Para santri mengira guru mereka menangisi kematian si beo. Sang syaikh pun kemudian bercerita bagaimana proses kematian si beo yang rajin bersyahadat itu. 

"Setiap hari setiap waktu beo itu selalu melantunkan syahadat. Lailahaillah menjadi kalimat yang selalu ia ucapkan. Namun saat sakaratul maut, beo itu hanya menjerit kek kek kek. Padahal sepanjang hidupnya, beo itu tak pernah luput mengucapkan syahadat. Kemudian aku pun teringat diriku. Aku takut saat ajal menjemput, aku tak mampu bersyahadat dan hanya berteriak layaknya si beo," kata sang syaikh menangis pilu. 

Mendengarnya, para santri pun kemudian ikut menangis. Mereka takut, saat ajal menjelang, lisan yang terbiasa bersyahadat justru tak mampu mengucapkannya. Hati yang tak ikhlas membuat lisan enggan bersyahadat di saat sakaratul maut tiba. Jangankan surga, harapan mendapat khusnul khatimah pun akan sirna. Mengingat semua itu, sang syaikh dan para santrinya menangis pilu. Padahal, mereka lah orang-orang yang giat mempelajari ilmu agama dan rajin mengamalkannya. Bagaimana dengan kita?

Published at: muslimahdaily

Sabtu, 25 Maret 2017

Kisah Wanita Penjaga Benteng

ilustrasi

Hari baru saja memasuki fajar. Cahaya mentari membuat siluet putih di atas langit. Para wanita dan anak-anak masih berlindung di balik benteng. Mereka diliputi kekhawatiran akan nasib suami, ayah dan anak mereka yang tengah bertempur di jalan Allah. Mereka menunggu harap cemas akan kemenangan perang kali ini, yakni perang khandaq.

Sesosok wanita mulia selalu mengawasi dari balik benteng. Dialah Shafiyyah bintu Abdul Muthalib, bibi Rasulullah dan ibunda dari shahabat Zubair bin Al Awwam. Sebetulnya telah ditugaskan beberapa orang mujahidin untuk melindungi benteng muslimin. Namun Shafiyyah merasa harus selalu sigap dan berjaga-jaga.

Perasaan Shafiiyah benar adanya. Pagi itu, benteng muslimin kosong dari para mujahidin. Rupanya mereka tengah sibuk menghadang pasukan Quraisy di ujung Khandaq hingga lupa atas penjagaan benteng. Hampir-hampir benteng itu diserang musuh seandainya Shafiyyah yang cerdik tak sigap kala itu.

Saat itu ia melihat sesosok bayangan tengah mengendap endap mendekati benteng. Shafiyyah pun segera menajamkan pandangan dan pendengarannya. Ia kemudian mengetahui bahwa sosok mencurigakan itu adalah seorang Yahudi yang tengah memata-matai benteng muslimin.

Saat perang Khandaq, pasukan Quraisy memang mendapat bala bantuan dari kaum Yahudi Bani Quraizhah. Padahal, bani tersebut telah membuat perjanjian damai dengan muslimin. Namun rupanya, mereka telah melanggar perjanjian yang berarti mereka boleh diperangi.

Shafiyyah tahu betul bagaimana Bani Quraizhah melanggar perjanjian. Tak heran jika kemudian mereka mengirim mata-mata untuk menumpas muslimin di titik terlemah, yakni para wanita dan anak-anak.
Pastilah si mata-mata ini tak tahu bahwa tak ada pasukan penjaga benteng. Pastilah ia tengah mencari tahu jikalau benteng ini hanyalah didiami wanita dan anak-anak. Demikian pikir Shafiyyah.

"Kalaulah satu musuh Allah ini mampu lolos dan memberitahu kaumnya tentang kondisi kami, tentu Yahudi ini akan menawan dan menyandera para wanita serta memperbudak anak-anak. Maka ini akan menjadi musibah besar bagi kaum muslimin," ujar Shafiyyah dalam hati.

Sang shahabiyah cerdik ini pun segera mengencangkan pakaiannya, memakai kudung dan mengambil tongkat. Dengan berani, ia menuju gerbang benteng untuk melawan si Yahudi. Dengan kehati-hatian dan kecerdikan, Shafiyyah keluar benteng dan mengendap ke arah si musuh.

Hingga saat posisinya telah dekat dengan si Yahudi, Shafiyyah segera memukulnya dan melempar tongkatnya ke arah kepala musuh Allah. Berkali-kali diserangnya si Yahudi hingga tewas. Tak hanya itu, kepala sang musuh dipenggalnya kemudian dibawanya ke atas benteng. Lalu dilemparkan kepala tersebut ke luar benteng tempat pasukan Yahudi menunggu.

Sungguh cerdas Shafiyyah. Apa yang ia lakukan tersebut rupanya untuk menjadikan peringatan bagi pasukan Yahudi dan agar tak diketahui bahwa benteng kosong dari para penjaga.

Benar, begitu pasukan Yahudi melihat kepala si mata-mata yang mereka utus, merindinglah mereka. Pemimpin mereka berkata, "Sungguh kami tahu bahwa Muhammad tidak mungkin meninggalkan para wanita dan anak-anak tanpa ada yang menjaga dan melindungi mereka." Maka pasukan Yahudi itu pun bertolak mundur dan batal menyerang benteng.

Luar biasa apa yang telah dilakukan Shafiyyah. Seorang wanita yang tak pernah memegang belati tersebut mampu membunuh musuh dengan gagah berani. Dialah wanita pertama muslimin yang mampu menbunuh musuh Allah. Ia lah wanita muslimin pertama yang berlakon layaknya mujahidin di medan perang. Shafiyyah binti Abdul Muthalib, wanita pertama yang membunuh seorang musyrik dalam sejarah Islam. Semoga Allah merahmatinya dengan keindahan surgawi.

Sabtu, 18 Maret 2017

Kisah Menakjubkan Sahabat Rasulullah Terkaya

Credit Image: musliminc.com


Dialah Abdurrahman bin 'Auf, sahabat Rasulullah yang mendapat nikmat kekayaan di dunia serta kebahagiaan di akhirat. Siapa yang tak ingin seperti beliau. Bagi akhiratnya, beliau merupakan satu dari 10 shahabat Rasul yang dijanjikan surga. Di dunia, beliau menjadi orang terkaya dengan harta melimpah.

Namun cobaan harta tidaklah mudah. Beliau seringkali menangis karena hartanya yang berlimpah. Beliau takut hartanya akan menyulitkannya di akhirat kelak.

Suatu hari, sepinggan makanan lezat dihidangkan untuk Abdurrahman bin 'Auf. Saat itu beliau sedang berpuasa. Namun bukan memakannya, sang shahabat justru menangis tersedu. Ia pun enggan menyentuh makanan tersebut.

"Allah bukakan dan bentangkan dunia ini untuk kami semua. Aku khawatir pahala dan balasanku dipercepat di dunia ini," ujarnya.

Padahal, beliau merupakan salah satu shahabat Rasulullah yang sangat dermawan. Bagaimana mungkin harta menjadi balasan pahala jikalau harta itu diberikannya untuk kepentingan umat Islam.

Dialah shahabat yang menyumbang separuh hartanya saat Rasulullah kekurangan pasokan perang. Bahkan ia menyumbang seluruh hartanya saat Rasulullah membutuhkan perbekalan untuk Perang Tabuk. Sampai-sampai Umar bin Khattab berkata,

"Sungguh aku melihat 'Abdurrahman bin 'Auf telah berdosa. Ia telah menyumbangkan seluruh hartanya tanpa menyisakannya untuk keluarga," ujar Umar kepada Rasulullah.
Maka Nabiyullah pun bertanya pada Abdurrahman mengenai kondisinya tersebut, "Apakah engkau meninggalkan sesuatu untuk keluargamu, wahai Abdurrahman?"

Dengan yakin Abdurrahman menjawab, "Ya, aku bahkan meninggalkan untuk mereka sesuatu yang lebih banyak," ujarnya.

"Berapakah jumlahnya?" tanya Rasulullah.

"Sebanyak janji Allah dan Rasul-Nya, yakni berupa balasan kebaikan, pahala dan ganjaran," jawab Abdurrahman enteng.

Kedermawanan Abdurrahman tak terkira dan tak tertandingi. Namun tidaklah hartanya habis setelah disedekahkan, justru semakin banyaklah hartanya. Allah begitu banyak melimpahkan harta kepadanya. Sehingga Abdurrahman pun terus saja memikirkan kondisinya di akhirat kelak. Ia terus saja takut bahwa hartanya akan menyulitkannya pada hari akhir.

Suatu hari di masa tuanya, Abdurrahman bin 'Auf mendengar sebuah hadits dari Aisyah. Sang ummul mukminin pernah mendengar Rasulullah berkata bahwa kelak Abdurrahman bin 'Auf akan menuju surga dengan merangkak.

Mendengarnya, Abdurrahman begitu sedih. Ia memang selalu khawatir bahwa hartanya akan menyulitkannya kelak. Beliau pun bertekad agar dapat menuju surga dengan berjalan tegak.

"Aku akan lakukan apa saja agar aku bisa masuk surga dengan berdiri, wahai Ummul Mukminin. Persaksikanlah semua kafilah dagangku ini beserta bawaan mereka dan pelana serta segalanya aku infakkan di jalan Allah," ujar Abdurrahman.

Padahal, sang shahabat Rasul ini memiliki kafilah dagang yang jumlahnya sangat banyak. Suatu hari, saat kafilah dagang Abdurrahman memasuki Kota Madinah, terhitung sebanyak 700 orang jumlahnya. Setiap dari mereka menunggang unta dan membawa segala kebutuhan manusia baik makanan hingga perhiasan. Bahkan dikisahkan, kota seakan bergoncang dengan kedatangan para kafilah dagang tersebut.

Semua harta melimpah itu kemudian dishadaqahkan di jalan Allah. Ia memenuhi kebutuhan seluruh ummul mukminin karena saat itu Rasulullah telah wafat. Ia pula memenuhi kebutuhan para mujahid yang berperang di jalan Allah. Bagi Abdurrahman, tiada hari tanpa berinfaq.

Tak hanya itu, selepas kematiannya, ia berwasiat agar memberi sebagian hartanya utuk seratus mujahidin perang Badr. Masing-masing dari mereka mendapat sebesar 400 dinar emas. Abdurrahman juga memberi harta yang banyak kepada para ummul mukminin. Ia juga membebaskan semua budak miliknya.
Setelah membagi-bagi hartanya tersebut, Abdurrahman bin 'Auf pun wafat dengan tenang. Turut mengantarkan jenazahnya, paman Rasulullah Sa'ad bin Abi Qaqqash serta Utsman bin 'Affan dan Ali bin Abi Thalib. Semoga Allah merahmati beliau.

Published at: muslimahdaily.com

Sabtu, 11 Maret 2017

Jodoh Melalui Sebuah Apel



Alkisah, di akhir era tabi’in hidup seorang pemuda bernama Tsabit bin Zutho. Tsabit merupakan seorang pria tampan yang sangat saleh dan berilmu. Pada suatu hari, Tsabit menemukan sebuah apel segar tengah hanyut mengikuti aliran jernih sungai kota Kufah. Tanpa pikir panjang, Tsabit pun mengambil apel merah nan ranum tersebut. Ia sangat lapar kala itu hingga segera memakannya.

Namun baru segigit, Tsabit teringat satu hal, "Milik siapakah apel ini? Bagaimana bisa aku memakan sesuatu yang bukan milikku," ujar Tsabit. Ia menyesal telah memakan buah yang bukan miliknya. Padahal ia menemukan apel itu di sungai. Siapa pun berhak mengambilnya. Namun Tsabit merupakan seorang pemuda yang sangat berhati-hati dan enggan pada sesuatu yang haram meski secuil. Maka ia pun kemudian menyusuri sungai. Tujuannya satu, menemukan pemilik apel hanyut itu dan meminta keridhaannya.

Cukup jauh Tsabit menyusuri aliran sungai, hingga ia menemukan sebuah kebun apel yang cukup luas di bantaran sungai. Buah ranum apel bergelayutan di antara ranting-ranting pohon yang menjalar hingga sungai. “Pastilah apel yang kumakan jatuh dari salah satu pohon di kebun ini,” pikir Tsabit.

Ia pun menghampiri seorang pria yang tengah menjaga kebun apel tersebut. Dengan sopan ia meminta keridhaannya, "Wahai hamba Allah, apakah apel ini berjenis sama dengan apel di kebun ini? Saya sudah mengigit apel ini, apa kau memaafkan saya?" kata Tsabit sembari menunjukkan apel yang telah dimakannya sedikit.

Namun pria itu hanyalah penjaga kebun dan bukan sang pemilik, "Bagaimana saya dapat memaafkanmu sementara saya bukan pemiliknya? Pemilik kebun lah yang berhak memaafkanmu," ujarnya.

"Lalu dimanakah pemiliknya?" tanya Tsabit.

"Rumahnya cukup jauh, sekitar delapan kilometer dari sini," kata si penjaga kebun.

Delapan kilometer bukan lah jarak yang dekat, namun Tsabit melakoninya. Ia tetap pergi untuk menemui si pemilik kebun. Setibanya di rumah pemilik kebun, Tsabit sangat gelisah. Ia khawatir jika pemilik kebun tak meridhainya. Betapa mulianya hati Tsabit padahal ia hanya memakan sebuah apel yang ia temukan di sungai.

Sang pemilik kebun merupakan seorang pria tua. Tsabit pun segeramengucapkan salam dan meminta keridhaannya atas sebuah apel. “Wahai hamba Allah, saya datang ke sini karena saya telah menemukan sebuah apel dari kebun anda  di sungai, kemudian saya memakannya. Saya datang untuk meminta kerelaan anda atas apel ini. Apakah anda meridahainya? Saya telah mengigitnya dan ini yang tersisa,” ujar Tsabit masih memegang apel yang ditemukannya.

Namun jawaban pria itu sungguh mengejutkan. “Tidak, saya tidak meridhaimu, anak muda,” kata pemilik kebun. Tsabit benar-benar tersentak.

"Apa yang bisa saya lakukan agar Anda ridha, wahai Hamba Allah?" tanya Tsabit khawatir.

"Demi Allah, saya tidak memaafkanmu, kecuali jika kau memenuhi sebuah syarat," ujar pemilik kebun.

"Persyaratan apakah itu?" tanya Tsabit lagi.

"Kau harus menikahi putriku," jawaban pria tua pemilik kebun lebih mengejutkan lagi. Belum tuntas urusan apel, sekarang Tsabit justru berurusan dengan pernikahan. Lagi pula, pikir Tsabit, menikahi seorang wanita bukanlah sebuah hukuman. Itu adalah hadiah.

“Benarkah itu adalah sebuah syarat? Anda memaafkan saya namun saya diminta menikahi putri anda. Itu adalah anugerah yang besar," tutur Tsabit.

"Perlu kau tahu, nak. Putriku itu buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Ia tak mampu erdiri dan berjalan. Jika kau menerimanya, maka saya akan memaafkanmu," kata pria tua. Tsabit kaget bukan main. Namun tak ada pilihan lain, ia lebih baik menikahi wanita cacat daripada memakan apel haram yang tak diridhai. Ia pun menerima syarat tersebut.

Akad nikah pun digelar. Ia kemudian memasuki kamar pengantin dengan hati campur aduk. Ingin rasanya Tsabit mundur, namun ia bertekad mendapat kehalalan atas apa yang telah ia makan. Sang pria muda tampan itu pun memasuki kamar istrinya.

Betapa terkejutnya Tsabit ketika mendengar jawaban salam dari wanita yang suaranya lembut nan merdu. Ia bahkan menjumpai sosok wanita di dalam kamar itu merupakan gadis muda yang sangat cantik. Wanita itu berdiri dan jalan menghampirinya. Tak ada satupun anggota tubuhnya yang cacat. Tsabit pun hendak keluar kamar karena mengira telah salah memasuki kamar. Namun gadis cantik itu menjelaskan bahwa dia adalah benar istrinya.

"Apa sebenarnya yang telah dikatakan ayah tentang aku?" tanya si gadis yang bingung mendapati suaminya tak percaya.

"Ayahmu berkata bahwa kau seorang wanita buta, bisu, tuli dan lumpuh," kata Tsabit.

"Demi Allah, ayahku berkata dengan jujur. Aku buta dari melihat segala sesuatu yang dimurkai Allah. Aku bisu dari mengucapkan kalimat yang membuat Allah murka. Aku tuli karena tidak pernah mendengar satu kalimat pun kecuali di dalamnya terdapat Ridha Allah. Aku pun lumpuh karena tak pernah melangkahkan kaki ke tempat yang Allah murkai,” ujar si gadis cantik nan shalehah tersebut. Tsabit pun begitu terpesona. Ia mengucapkan syukur atas anugerah wanita shalihah yang ia dapatkan hanya melalui sebuah apel yang hanyut di sungai.

Dari pernikahan pasangan Tsabit si pemuda shalih dan istrinya yang shalihah tersebut, lahir seorang ulama besar dunia sekaligus imam besar kaum muslimin. Putra mereka yakni Nu'man bin Tsabit atau yang lebih dikenal Imam Abu Hanifah.

Published at: muslimahdaily.com

Senin, 13 Februari 2017

Nabi Musa dan Batu yang Berlari

credit image: discovermagazine.com


Nabi Musa dituduh dan dicela Bani Israil bahwa beliau 'alaihissalam memiliki cacat  yang sangat buruk pada tubuhnya. Umat beliau dengan lancangnya menyebarkan gosip bahwa sang nabi yang memberikan petunjuk ke jalan terang melalui Taurat tersebut memiliki penyakit kulit yang menjijikan.

Itulah Bani Israil, mereka memang selalu menghina bahkan membunuh nabi-nabi mereka. Bahkan kepada nabi yang telah membebaskan mereka dari kekejaman Fir'aun sekalipun.

Tuduhan kepada nabiyullah Musa bermula karena beliau enggan melepas baju acap kali mandi di sungai. Tentu sang utusan Allah malu jika auratnya nampak. Namun tidak demikian dengan Bani Israil. Mereka terbiasa dan tak merasa malu untuk mandi di sungai tanpa mengenakain pakaian.

Selain itu, sang utusan Allah juga enggan mandi bersama dan memilih menyendiri karena takut auratnya tersingkap. Melihat kebiasaan Nabi Musa tersebut, Bani Israil justru bukan memujinya melainkan berprasangka buruk. Mereka pun mulai mengucapkan hal-hal buruk megenai nabi mereka.

"Tubuh Musa cacat sehingga ia malu melepas pakaian dan mandi bersama kita," demikian tuduhan mereka.

Mendengar gosip yang tersebar di tengah umatnya tersebut, Nabi Musa hanya diam saja. Sang nabiyullah terbiasa dengan perlakuan semena-mena umatnya. Beliau hanya bersabar dan memilih bungkam. Namun Allah tidak tinggal diam. Allah akan selalu membela utusan-Nya meski urusan kecil sekalipun. Allah tak akan biarkan nabi-Nya dihina.

Suatu ketika Nabi Musa mandi seperti biasa. Beliau kemudian menaruh pakaian di atas batu. Tak sangka, atas kehendak Allah Ta'ala, batu itu berlari sangat kencang. Benda mati itu tiba-tiba hidup dan membawa lari pakaian Nabi Musa. Saudara Harun tersebut pun segera mengejar batu yang berlari itu.

"Wahai batu... Bajuku... Bajuku..." demikian teriak rasul Allah sembari mengejar batu yang enggan berhenti atas perintah Allah.

Batu tersebut kemudian melewati sekumpulan orang dari Bani Israil. Nabi Musa pun masih terus mengejarnya. Dengannya, Allah membuka tabir Musa dan memperlihatkan pada Bani Israil bahwa nabi mereka tak cacat sedikitpun. Sebaliknya, tubuh sang nabi sangat tegap dan elok.

Bani Israil yang melihatnya pun kemudian menarik tuduhan mereka. "Demi Allah tak ada cacat pada Musa," ujar mereka. Maka segala gosip mengenai cacatnya Nabi Musa pun hilang.

Sementara si batu, ia berhenti ketika tugasnya dari Allah selesai. Setelah Allah menampakkan kesehatan tubuh Nabi Musa di hadapan Bani Israil, si batu tiba-tiba berhenti, atas perintah Allah. Nabi Musa pun dapat meraih batu tersebut dan segera mengenakan pakaian beliau kembali.

Lalu dengan tongkatnya, Nabi Musa memukul si batu nakal yang membawa kabur baju beliau. Beliau geram pada si batu yang membuat tubuhnya tersingkap di hadapan kaum Israil. Dikisahkan bahwa si batu bahkan memiliki bekas tiga pukulan tongkat Nabi Musa.

Sungguh Maha Agung Allah yang telah membela nabi-Nya dan menjadikan benda mati dapat berlari layaknya makhluk. Kisah Nabi Musa dan batu ajaib yang mampu berlari ini dikabarkan oleh Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan Imam Al Bukhari.

Ada hikmah yang patut diambil dari kisah di atas. Selain keharusan menghormati nabi dan Rasul, Allah menunjukkan kebesarannya dengan menghidupkan benda mati. Jika di dunia Allah dapat membuat sebongkah batu dapat berlari, maka sudah tentu sangat mudah bagi Al Khaliq untuk membuat benda-benda mati berbicara untuk menjadi saksi di akhirat. Maka kelak, tangan, kaki dan anggota tubuh lain dapat mengabarkan sejujurnya perihal segala perbuatan pemiliknya di dunia.

Published at: muslimahdaily.com

Sabtu, 11 Februari 2017

Kayu Penghantar Janji




Pada zaman dahulu sebelum era keislaman, hidup seorang pemuda dari kalangan Bani Israil yang memiliki pribadi luhur. Ia sangat jujur dan tak pernah ingkar janji. Suatu hari, si pemuda sangat membutuhkan uang untuk keperluannya. Ia pun meminjam sejumlah uang kepada seseorang yang ia kenal. Namun saat itu tak ada saksi dalam interaksi utang piutang tersebut.

"Datangkan kemari para saksi yang akan mempersaksikan," ujar si peminjam uang.

"Cukuplah Allah sebagai saksi," kata si pemuda.

"Kalau begitu, datangkan kepadaku seorang penjamin," pinta si peminjam lagi.

Namun si pemuda tak memiliki seseorang untuk menjadi saksi apalagi penjamin. Ia hanya bisa berucap, "Cukuplah Allah sebagai penjamin," kata si pemuda. Namun baginya, menyebut asma Allah dalam ikatan perjanjian maka menjadikannya sangat kuat. Jika dilanggar, ia amat takut Allah murka. Tekad si pemuda pun dipercaya si peminjam. "Kau benar" katanya. Ia pun kemudian memberi pinjaman seribu dinar kepada sang pemuda. Keduanya pun menyepakati masa jatuh tempo pengembalian uang tersebut.

Pergilah si pemuda mengarungi samudera, memenuhi kebutuhannya dengan uang pinjaman tersebut. Saat jatuh masa tempo pengembalian, ia pun bermaksud kembali ke pulau dimana si peminjam tinggal. Namun apa daya, tak ada layanan perahu menuju tempat si peminjam. Padahal di hari biasa perahu selalu tersedia, namun entah mengapa hari itu si pemuda tak mendapati satu pun perahu meski telah mencarinya dengan keras. Cemaslah hati pemuda, ia tak mau melanggar kesepakatan dan janji hutangnya.

Si pemuda tak mau berputus asa segera. Ia telah berjanji akan mengganti uang seribu dinar tersebut pada hari itu juga. Maka ia pun berfikir, bagaimana cara untuk memenuhi janjinya. Ia pun mengambil sepotong kayu, kemudian melubanginya. Uang seribu dinar itu kemudian ia masukkan pada lubang kayu tersebut. Tak lupa sepucuk surat kepada sang piutang juga diikutsertakan pada lubang kayu tersebut. Ia tutup lubang tersebut kemudian melarungnya kelaut seraya berdoa,

"Ya Allah, sungguh Engkau tahu bahwa aku meminjam uang sebesar seribu dinar, lalu ia (si peminjam) memintaku seorang penjamin, namun kukatakan padanya, 'Allah cukup sebagai penjamin'. Ia pun ridha dengan-Mu. Ia juga meminta saksi kepadaku, akupun mengatakan 'Cukup Allah sebagai saksi'. Ia pun ridha kepada-Mu. Sungguh aku telah berusaha keras untuk mendapatkan perahu untuk mengembalikan uangnya yang kupinjam, namun aku tak mendapatinya. Aku tak mampu mengembalikan uang pinjaman ini, sungguh aku menitipkannya kepada-Mu," ujar si pemuda bertawakal.

Sepotong kayu itu pun kemudian hanyut mengikuti arus laut. Namun meski telah memasrahkan uang dalam kayu tersebut, bukan berarti si pemuda berhenti berusaha. Ia terus mencari perahu untuk menghantarnya ke negeri seberang, dimana si peminjam hutang tinggal.

Sementara itu di negeri seberang, si piutang terus menengok dermaga menunggu perahu si pemuda. Namun lama nian, tak ada satu perahu pun yang menghantarkan uangnya kembali. Ia pun menunggu di tepi laut, berharap si pemuda menepati janjinya. Cukup lama menunggu, ia pun bosan. Namun tiba-tiba ia melihat sebongkah kayu yang hanyut. Bermaksud digunakan sebagai kayu bakar dirumahnya, ia pun memungutnya dan membawanya pulang. Terkejut, saat membelah kayu tersebut, ia mendapati uang seribu dinar dan sepucuk surat. Membaca surat tersebut, ia pun tersenyum riang.

Keesokan harinya, si pemuda muncul dengan wajah penuh cemas dan rasa bersalah. Turun dari perahu, ia bergegas menuju rumah si peminjam hutang. "Demi Allah, saya terus berusaha mencari perahu untuk menemuimu dan mengembalikan uangmu. Tapi aku tak memperoleh perahu hingga perahu sekarang ini yang aku datang dengannya," ujar si pemuda menjelaskan uzurnya.

Si peminjam uang pun tersenyum melihat kegigihan pemuda menepati janjinya. Ia pun berkata, "Apakah kau mengirim sesuatu kepadaku?" tanyanya. Namun si pemuda tak sedikitpun menyanka bahwa kayu kirimannya sampai tujuan, meski tanpa alamat, apalagi jasa kurir. "Aku katakan padmu, aku tak mendapatkan perahu sebelum apa yang kubawa sekarang ini," ujar si pemuda sembari menunjukkan seribu dinar untuk diberikan pada si peminjam hutang. Wajah sang piutang pun merekah gembira. Ia senang mendapati pemuda yang begitu jujur dan menepati janji. Ia pun harus berkata jujur bahwa htangnya si pemuda telah lunas melalui kayu yang dikirimkannya sesuai tenggat waktu peminjaman. "Sungguh Allah telah menyampaikan uang yang kau kirim di dalam kayu. Maka pergilah dan bawalah kembali seribu dinar yang kau bawa ini," ujar si piutang.

Kisah pemuda dan sepotong kayu tersebut dikabarkan oleh Rasulullah dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan Nasa'i. Tak dikabarkan jelas siapa nama pemuda tersebut dan latar lokasi tempat tinggal si pemuda dan si piutang.  Namun kisah tersebut dipastikan kebenarannya mengingat kedudukan hadits yang menyebutkan kisah tersebut memiliki derajat shahih.


Tekad sebelum Bertawakal

Drai kisah tersebut, terdapat hikmah agung yang dapat menjadi pelajaran bagi muslimin. Membulatkan tekad sangat dibutuhkan muslimin sebelum bertawakal kepada Allah. Hal tersebut tercantum dalam Al-Qur'an Surah Ali Imran ayat 159, Allah berfirman, "...Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya."

Dalam kisah, si pemuda menunjukkan sikap memenuhi janji dengan ketekadan yang luar biasa. Hingga kemudian ia menyerahkan urusannya pada Allah dengan mengirimkan sepotong kayu. Ia bertawakal pada Allah agar suratnya sampai ke tujuan setelah memiliki tekad bulat dalam hatinya untuk memenuhi janjinya mengganti hutangnya.

Adapun tawakal sangat diperintahkan bagi setiap muslim baik dalam Al-Qur'an maupun hadits. Begitu banyak manfaat tawakal bagi muslimin, selain menumbuhkan keimanan, tawakal juga membuat urusan muslimin baik. "Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya," Qur'an Surah At-Thalaq ayat 3.


Published at: Islam Digest, Harian Republika