Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Mei 2017

Masjid Pekojan dan Tradisi Bubur India



Klasik, tradisional dan merakyat, demikian ciri Masjid Pekojan yang berada di Kota Semarang, Jawa Tengah. Fisik bangunan masjid tak beda jauh dari masjid kuno pada umumnya di tanah Jawa. Kendati demikian, usia masjid ini telah lebih dari 200 tahun. 

Pasak kayu jati dan lantai marmer membuat masjid ini nampak kuno namun terawat dengan baik. Halamannya cukup luas ditambah sebuah kompleks makam yang tak dipuja berlebih. Terdapat pahatan kayu jendela yang polanya sangat identik dengan masjid-masjid tua, yakni pola bunga. Pahatan berbentuk binatang dan makhluk hidup memang tak pernah ditemui masjid-masjid tua yang dibangun para pendatang baik Gujarat, Arab, ataupun yang lainnya.

Masjid Pekojan Semarang yang berdiri sejak abad ke-18 tersebut memang lah dibangun oleh pendatang etnis Koja. Mereka merupakan salah satu etnis muslim di India yang datang dari Gujarat. Melalui jalur perdagangan, etnis Koja yang didominasi Kasta Ksatria itu datang ke nusantara. Namun bukannya kembali ke tanah kelahiran di Pantai Barat India, mereka justru memilih tinggal dan berbaur dengan warga pribumi.

Sayangnya, saat tiba di Semarang, warga Pribumi menjaga jarak dengan mereka. Untuk mengatasi hal tersebut, dibuatlah sebuah tradisi yang ditujukan untuk mengumpulkan warga asli pribumi dengan pendatang Koja. Mereka para etnis Koja membuat bubur yang biasa mereka buat di tanah India. Bubur tersebut kemudian dibagikan secara gratis di Bulan Ramadhan. Saat waktu berbuka, baik pendatang Koja maupun pribumi menyantap bersama-sama bubur India tersebut di Masjid Pekojan. Hubungan campur baur pendatang dan pribumi pun berjalan harmonis.

Tradisi bubur India yang memiliki usia sama sejak masjid dibangun tersebut masih berlangsung hingga kini. Setiap sore di bulan Ramadhan, Masjid Pekojan dipenuhi muslimin yang ingin mencicipi bubur India yang legendaris itu. Mereka yang datang tak hanya warga Semarang melainkan para pelancong maupun warga kota lain sekitar Semarang.

Tak ada yang istimewa dari penampilan bubur India, layaknya bubur beras pada umumnya namun berwarna lebih pekat. Hal yang spesial dari bubur tersebut adalah rasanya yang lezat dan tak pernah berubah dari masa ke masa. Aroma rempah-rempah yang kuat dari bubur sangat lah menggoda. Apa rahasia rempah-rempah tersebut, hanya etnis Koja yang tahu. Tugas juru masak bahkan diwariskan turun temurun sejak tradisi ini ada. Saat ini sang koki, Mbah Mu’in, merupakan generasi keempat. 

Menurut Mbah Muin, resep bubur India yang legendaris itu sangat lah mudah. Selain bahan utama beras dan santan, bumbu yang digunakan di antaranya ialah jahe, lengkuas, serai, daun salam, daun pandan, kayu manis, wortel, bawang merah dan bawang putih serta sayur mayur. Namun jika kita mencoba resep itu di dapur, entah mengapa rasanya tak sama seperti yang dibagikan gratis di Masjid Pekojan.

Setiap harinya selama bulan Ramadhan, tim Masjid Pekojan dapat menghabiskan 20 kilogram beras untuk membuat bubur India tersebut. Jangan tanya seberapa besar panci yang digunakan untuk memasak. Ukurannya sangat besar hingga sulit dikira. “Per hari 20 kilogram. Sekitar 150 hingga 200 mangkok dibagikan tiap hari selama bulan Ramadhan, “ ujar Takmir Masjid Pekojan, Ali Baharun.

Menyantap takjil bubur India sembari menikmati guratan-guratan tua Masjid Pekojan cukup membuat daya tarik tak terkira. Ukhuwah Islamiyah pun sangat terasa dengan menyantap buka puasa bersama-sama, duduk berbaris di pelataran masjid. Tradisi Bubur India ini rupanya telah mencapai tujuannya, yakni mempererat hubungan persaudaraan muslimin tanpa melihat etnis dan asal muasal.

Published at: muslimahdaily.com

Minggu, 19 Maret 2017

Masjid Kobe; Masjid yang Selamat dari Bom dan Gempa



Jika kita terpana melihat Masjid Darussaam di Aceh yang tak ikut tergulung tsunami pada tahun 2000 silam, maka fenomena Masjid Muslim Kobe lebih menakjubkan lagi. Masjid di Jepang ini tetap utuh setelah bom tahun 1945, pun tak goyah saat gempa tahun 1995. Subhanallah, Maha Kuasa Allah melindungi rumah-Nya.

Dalam sejarah kita ingat adanya bom atom Hiroshima dan Nagasaki yang pernah menghancurkan leburkan Jepang pada saat Perang Dunia kedua. Tentu itu adalah catatan tak terlupakan karena momen itu lah negara kita dapat mencapai kemerdekaan. Namun ada satu peristiwa menarik saat itu. Yakni keberadaan Masjid Kobe yang tetap utuh seakan tak tahu sejarah bom mematikan tersebut.

Bom sekutu yang meluluh lantakkan negeri sakura ternyata tak hanya berjumlah dua. Hujan bom yang tak berperikemanusiaan pun terjadi di luar Kota Hiroshima dan Nagasaki, salah satunya yakni di kota Kobe. Saat itu kondisi kota benar-benar hancur. Puing-puing reruntuhan tersebar di mana-mana. Hanya satu bangunan yang tetap kokoh, yakni Masjid Muslim Kobe.

Tentara Jepang dan masyarakat bahkan berlindung di masjid tersebut. Luar biasa, tak ada sedikit pun retak pada dinding masjid. Bahkan seandainya masjid tak terkena langsung bom ganas tersebut, semestinya lah masjid tetap hancur dengan kerasnya suara dan getaran yang ditimbulkannya. Namun semua teori itu tak berlaku. Masjid Muslim Kobe tetap berdiri tegak tanpa cacat. Hanya ada satu tanda masjid tersebut selamat dari bom, yakni bekas asap hitam yang tertoreh di dinding luar masjid. Itu saja.

Tak hanya bom perang dunia, kekokohan masjid diuji kedua kalinya dengan adanya gempa bumi. Bencana gempa Great Hanshin berkekuatan 7,3 skala richter mengguncang Kota Kobe pada tahun 1995. Banyak nyawa terenggut dan banyak bangunan kota hancur. Namun lagi-lagi, Masjid Muslim Kobe tetap berdiri tegak di antara puing reruntuhan. Masjid bahkan dibuka dan bertambah fungsi menjadi tempat pengungsian serta penyelamatan para korban.

Masjid Muslim Kobe berdiri pada tahun 1935. Inilah masjid pertama yang berdiri di Negeri Samurai. Pembangunannya bermula dari makin banyaknya jumlah pendatang muslimin di Jepang. Sebuah komunitas muslim pun terbentuk dari para pedagang India dan Arab serta warga Turki-Tartar yang menetap di Kobe. Mereka kemudian berinisiatif membangun sebuah masjid untuk beribadah bersama.

Hingga kini, Masjid Muslim Kobe masih berdiri anggun di tengah masyarakat Shinto. Keindahannya sedikit berbeda dengan bangunan gaya Jepang pada umumnya. Pasalnya, masjid ini memang dibangun dengan gaya arsitektur Turki.

Lekukan demi lekukan indah Masjid Muslim Kobe merupakan hasil karya arsitek asal Ceko, Jan Josef Svagr. Sang arsitek memang mengadopsi gaya tradisional Turki untuk bangunan masjid tersebut. Terdapat dua menara menjulang tinggi disertai kubah megah di atap masjid, sangat khas masjid era Turki Utsmani. Ornamen mihrab dan mimbar serta ukirannya pun sangat berciri khas gaya Turki yang banyak mendapat pengaruh dari Byzantium.

Masjid yang berlokasi di kawasan Nakayamate-dori, Chuo-ku, Kobe, tersebut juga dilengkapi bangunan pendukung seperti ruang-ruang kelas dan aula yang luas. Bangunan pendukung tersebut difungsikan sebagai sekolah Al-Qur'an bagi anak-anak, dakwah Islam, kajian keislaman, serta kegiatan muslim Kobe lain. Layaknya Islamic Center, masjid ini menjadi pusat kegiatan Islam di Jepang, khususnya Kobe.

Posisi imam Masjid Muslim Kobe selalu diisi oleh muslimin asal Timur Tengah. Sejak berdirinya, imam masjid dikirim dari wilayah Arab terutama dari Universitas Al-Azhar Mesir. Imam Mohamed Shamguni merupakan imam pertama masjid tersebut. Selain imam, masjid juga memiliki komite dan muadzin yang semuanya diisi para da'i luar negeri. Warga asli Jepang tak menempati posisi tersebut karena mereka semua merupakan muallaf yang masih sangat minim pengetahuan agama. Belum lahir seorang pun da'i yang berasal dari warga asli Jepang.

Published at: muslimahdaily.com

Minggu, 12 Maret 2017

Napak Tilas Masjid para Wali


Credit Image: idsejarah.net

Sembilan wali, atau yang lebih familiar dengan walisongo, membangun sebuah masjid yang kemudian menjadi markas dakwah Islam di pulau Jawa. Dahulu, inilah satu-satunya masjid di tanah Jawi. Kini, tak ada yang berubah dari pesonanya. Arsitekturnya yang unik, ditambah berkembangnya cerita mistis, menjadikannya destinasi favorit wisata religi hingga kini.

Inilah Masjid Agung Demak, masjid para wali yang pertama berdiri di Pulau Jawa. Masjid ini pula yang berkiprah besar dalam penyebaran Islam kepada masyarakat Jawi. Mereka para wali yang menjadikan Masjid Agung Demak sebagai pusat dakwah yakni Sunan Ampel, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati, Sunan Muria, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Darajat, Sunan Giri dan Syekh Lemah Abang atau Siti Jenar.

Konon cerita, Masjid Agung Demak didirikan oleh kesembilan walisongo. Mereka bersama-sama membangun masjid tersebut hanya dalam waktu satu malam. Entah benar atau tidak, inilah yang dipercayai masyarakat. Dengan 'kesaktian' para wali, masjid ini terbangun megah.

Tahun pembangunan masjid hingga kini tak dapat dipastikan. Menurut Babad Demak, masjid ini berdiri pada 1399 tahun saka atau 1477 Masehi. Berbeda dari catatan babad, gambar bulus pada mihrab masjid menunjukkan angka tahun 1401 saka atau 1479 Masehi.

Adapun sang arsitek masjid bukan lain adalah Sunan Kalijaga, salah satu sunan dari walisongo yang terkenal sangat cerdas. Gaya arsitek Masjid Agung Demak merupakan sebuah upaya akulturasi budaya Islam dengan budaya masyarakat setempat. Kita mengenal walisongo merupakan kumpulan ulama negeri ini yang berdakwah melalui upaya akulturasi. Mereka menggunakan budaya yang telah ada sebagai sarana dakwah. Itu pula yang dilakukan Sunan Kaliaga saat mendesain gaya arsitektur Masjid Agung Demak.

Saat itu budaya Hindu-Budha lah yang mendominasi masyarakat Indonesia. Maka tak heran jika kemudian bentuk Masjid Agung Demak menyerupai candi ataupun stupa. Hal ini nampak jelas pada bentuk atap masjid yang berundak-undak atau yang disebut dengan meru.

Bentuk meru merupakan sebuah atap dengan susunan yang biasanya berjumlah ganjil. Susunan tersebut makin tinggi makin mengecil hingga membentuk limas. Pada tradisi Hindu-Budha, atap bertingkat mengerucut tersebut menunjukkan makna vertikalitas dan kekuasaan Tuhan.

Karena makna tersebut, setiap bangunan suci Hindu-Budha wajib beratapkan meru. Maka ketika Sunan Kalijaga mendesain gaya masjid yang merupakan bangunan suci umat Islam, sang sunan pun mengadopsi tradisi tersebut. Sebagai upaya akulturasi dengan budaya Islam, atap Masjid Agung Demak dibentuk tumpang tiga yang memiliki arti iman, Islam dan ikhsan.

Di kemudian hari, gaya arsitek Masjid Agung Demak ini menjadi trendsetter masjid-masjid lain di nusantara. Hampir semua masjid di Jawa mengadopsi gaya akulturasi tersebut. Sebut saja Masjid Menara Kudus, Masjid Sunan Kalijaga, Masjid Agung Banten, Masjid Sultan Suriansyah, Masjid Agung Pondok Tinggi, dan lain sebagainya.

Gaya arsitektur akulturasi ini terus lestari hingga era kemerdekaan. Beberapa masjid di nusantara mulai berkiblat ke Timur Tengah. Nampak saat dibangunnya Masjid Istiqlal di Jakarta yang berkubah mengikuti gaya masjid timur tengah. Begitu pula Masjid Baiturrahman di Aceh yang juga berkubah indah. Hingga kini, banyak masjid yang mengalami renovasi untuk mengikuti gaya megah berkubah dan bermenara tinggi.

Namun hal itu tidak dilakukan Majid Agung Demak. Melintasi masa, masjid yang berlokasi di Bintoro tersebut mengalami berkali-kali renovasi. Namun tak banyak yang berubah dari bangunan pertama kali berdiri hingga kini. Pantas saja jika pada tahun 1995 lalu, Masjd Agung Demak dicalonkan masuk ke dalam daftar situs warisan dunia UNESCO pada tahun 1995.

Published at: muslimahdaily.com

Minggu, 12 Februari 2017

Dibangun 2 Dekade, Masjid Ar Rahma Kiev Menakjubkan



Kota Kiev, Ibu Kota Ukraina memiliki sebuah masjid yang cantik nan megah. Masjid ini menjadi simbol eksistensi umat Islam di negara pecahan Uni Soviet tersebut. Masjid ini pula menjadi jantung muslimin Kota Kiev, baik sebagai tempat ibadah, madrasah hingga pusat dakwah.

Masjid Ar Rahma, demikian muslimin Kiev menamai masjid tersebut. Hal luar biasa dari masjid ini adalah proses pembangunannya yang memakan waktu sangat lama, yakni hingga 20 tahun.

Diprakarsai pendiriannya pada tahun 1991, pembangunan Masjid Ar Rahma mendapat hambatan pembangunan yang beragam, dari perizinan hingga revolusi Ukraina. Bahkan sumber lain menyebutkan, masjid di kota Kiev telah diupayakan pembangunannya sejak tahun 1897. Namun rencana tersebut gagal karena meletusnya perang dunia pertama.

Pembangunan masjid kemudian baru dapat dimulai pada tahun 1994. Izin pembangunannya bahkan baru keluar di tahun 1996. Padahal saat itu, muslimin Kiev telah memiliki beragam fasilitas seperti perpustakaan dan lapangan olah raga, namun mereka tak mendapat izin membangun masjid. Masjid Ar Rahma inilah yang kemudian menjadi masjid pertama di ibu kota negara Eropa Timur tersebut.

Setelah melewati banyak hambatan, Masjid pertama pun resmi dibuka pada bulan Desember tahun 2011. Namun kala itu belum dapat digunakan hingga setahun berikutnya, yakni di tahun 2012. Terhitung sejak prakarsa tahun 1991, maka proses pembangunan masjid kebanggaan muslimin Ukraina ini menempuh waktu hingga 20 tahun lamanya. Inilah masjid yang kemudian dijadikan simbol perdamaian di negara Ukraina.

“Saya mengucapkan selamat kepada Muslim Ukraina terutama di Kota Kiev. Masjid ini merupakan simbol perlindungan Ukraina terhadap hak konstitusi kebebasan beragama dan hak asasi manusia dan keberhasilan demokrasi di Ukraina,” ujar Jubir Kepresidenan Negara Ukraina ketika meresmikan Masjid Ar Rahma bertepatan dengan hari kemerdekaan Ukraina, dikutip dari EuropNews.

Masjid Ar Rahma Kiev dibangun di atas lahan milik Badan Urusan Agama Islam Ukraina (DUMA) yang dihibahkan untuk pembangunan masjid. DUMA ini pula yang sejak awal memperjuangan pendirian masjid bagi muslimin Kota Kiev. Adapun dana pembangunan masjid diambil dari infaq shadaqah muslimin ibu kota di negara berbatasan Belarus tersebut.

Arsitektur Masjid Ar Rahma Kiev terbilang unik. Denahnya berbentuk melingkar dengan satu menara setinggi 27 meter dan sebuah kubah yang megah dan cantik. Jika dilihat dari pemandangan atas, bentuk melingkar masjid ini akan nampak lebih indah.

Sang arsitek, Alexander Komorowski menggunakan gaya arsitektur masjid setempat yang ada di wilayah Eurasia. Tak heran jika ada unsur budaya Turki disana. Disertai pula ukiran ataupun guratan yang sangat detail hingga menampah pesona keindahan masjid.

Bangunan masjid Ar Rahma dapat menampung kurang lebih 3 ribu jamaah. Disana lah berkumpul seluruh muslimin Kota Kiev saat hari raya. Tak hanya sebagai tempat ibadah, Masjid Ar Rahma Kiev juga memiliki kelas-kelas sebagai tempat madrasah pembelajaran ilmu Islam. Di sana pula organisasi Islam berpusat. Inilah cahaya yang sangat benderang di tengah kesibukan ibu kota Ukraina.

Sebagai negara mayoritas Nasrani Orthodox, Ukraina menjadi tempat tinggal muslimin sebagai minoritas. Meski demikian, muslimin Ukraina mendapat kebebasan untuk menjalankan agama mereka. Tak ada gangguan beribadah ataupun pembatasan perayaan hari raya Islam.

Tak heran jika kemudian angka muslimin meningkat dan kini berjumlah lebih dari dua juta jiwa. Mereka terdiri dari warga asli Ukraina, imigran, yang terbanyak berasal dari bangsa Tar-tar. Selain Masjid Ar Rahma di ibu kota Kiev ini, terdapat sekitar lebih dari 200 masjid lain yang tersebar di negara anggota Uni Eropa tersebut.


Published at: muslimahdaily.com