Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 September 2018

[Opini] Bali di Pelupuk Mata tak Nampak, Jeju di Seberang Lautan Terlihat




Bali di Pelupuk Mata tak Nampak, Jeju di Seberang Lautan Terlihat

Indonesia memiliki keunggulan pariwisata terutama oleh keindahan alam yang luar biasa dan kebudayaan yang amat beragam. Negeri ini bahkan menjadi salah satu destinasi favorit mancanegara. Anehnya, masyarakat Indonesia justru lebih suka berwisata ke luar negeri. Keindahan negeri sendiri tak nampak, keglamoran negara lain dianggap lebih indah.

Keunggulan pariwisata Indonesia terbukti dari peringkat dunia yang diperoleh negeri ini. Dikabarkan oleh Kompas, Indonesia yang diwakili Bali masuk sebagai 25 destinasi terbaik dunia versi AS News & World Report 2016-2017. Lebih tepatnya, Pulau Dewata meraih peringkat 22 di antara 25 destinasi terbaik seluruh dunia. Peringkat tersebut bahkan di atas satu tingkat dari San Fransisco, California yang terkenal dengan Hollywood-nya.

Namun ternyata fakta ini hanya terlihat oleh para wisatawan asing. Pasalnya, di negeri sendiri, jumlah wisatawan lokal hanya berkisar puluhan ribu sementara warga yang berwisata ke luar negeri mencapai angka jutaan jiwa. Data dari Kemenparekraf dan BPS, jumlah warga Indonesia yang berwisata ke luar negeri mencapai angka 6,67 juta di periode Januari-November 2016. Tahun sebelumnya, jumlah tersebut mencapai 7,8 juta (2014) dan 7,9 juta (2015).

Sementara jumlah wisatawan nusantara hanya 236 ribu (2011), 245 ribu (2012) dan 250 ribu (2013). Angkanya tak pernah tembus di atas 300 ribu, apalagi satu juta. Jumlah ini jauh lebih banyak daripada wisatawan mancanegara yang memilih berlibur ke Indonesia. Dikabarkan kantor berita Antara, pada Juli 2016 lalu, BPS bahkan mencatat rekor baru kunjungan wisman yang mencapai 1,03 juta kunjungan. Artinya, orang asing lebih menikmati pariwisata Indonesia, ketimbang warganya sendiri.

Mirisnya, destinasi favorit luar negeri oleh warga Indonesia bukan lain adalah Singapura, Malaysia dan Tiongkok (Data World Tourism Organization, dilansir bisniswisata). Di tahun 2016, tren mulai berubah. Diungkap dalam survei skycanner yang dikutip dari liputan6, Korea Selatan meraih peringkat pertama sebagai destinasi populer warga Indonesia. Padahal, jika melihat destinasi wisata keempat negara tersebut, jumlahnya tak sebanyak dan tak mampu menandingi negeri ini. Bila menilik AS News & World Report, keempatnya pula tak masuk dalam 25 destinasi terbaik dunia.

Maka muncul pertanyaan, mengapa keindahan Indonesia tak diminati warga sendiri dan justru memilih berlibur ke negara lain yang bahkan pilihan wisatanya itu-itu saja. Singapura dan Malaysia unggul di ranah fasilitas hiburan seperti Universal Studio atau Lego Land yang sebetulnya Jakarta memiliki hiburan sejenis yang jumlahnya sangat banyak dan amat sangat beragam. Tiongkok terkenal dengan tembok raksasa dan barang murah yang sebetulnya Indonesia memiliki Candi Borobudur dan Candi Prambanan, juga barang unik murah di Malioboro, Jogja atau di kota kembang, Bandung. Adapun Korea Selatan terkenal dengan Pulau Jeju yang sebetulnya amat sangat jauh keindahannya dibandingkan Bali.

Destinasi yang disebut di atas belum seberapa dengan kekayaan wisata Indonesia. Beberapa diantaranya yakni Danau Toba (Sumatera Utara), Bukittinggi (Sumatera Barat), Anambas (Kep. Riau), Way Kambas (Lampung), Ujung Kulon (Banten), Karimun Jawa (Jawa Tengah), Bromo (Jawa Timur), Kepulauan Derawan (Kalimantan Timur), Pulau Komodo (Nusa Tenggara Timur), Bunaken (Sulawesi Utara), Raja Ampat (Papua Barat) dan masih banyak lagi.

Jika ditilik lebih jauh, banyak alasan mengapa warga Indonesia lebih memilih wisata ke luar negeri meski negeri sendiri sangat indah. Pertama, prestise. Ada anggapan di tengah masyarakat bahwa seorang yang pergi ke luar negeri adalah orang kaya. Prestis yang didapat sangat tinggi. Padahal, ongkos yang dikeluarkan untuk perjalanan Jakarta-Malaysia kira-kira tak beda jauh dengan Jakarta-Jogja. Apalagi mengingat tak perlu visa untuk pergi ke sesama negara Asia tenggara.

Kedua, harga wisata luar negeri yang lebih murah dibanting wisata domestik. Sebagaimana disebut sebelumnya, mana yang dianggap “wah” oleh teman-teman, ke Jogja atau ke Malaysia? Dengan harga yang sama, seorang bisa ke luar negeri yang dianggap lebih keren daripada ke Jogja yang hanya dianggap lokal.

Dikabarkan oleh Kompas, salah satu alasan tingginya minat masyarakat untuk wisata ke luar negeri adalah harga tiket pesawat terbang ke luar negeri yang lebih terjangkau. Misalkan saja penerbangan Jakarta-Singapura (tahun 2011) hanya USD 86 dolar PP. Sementara untuk Jakarta-Bali saja tak cukup Rp 500 ribu sekali jalan. Contoh lain, untuk pergi ke Raja Ampat, tarif yang dipatok Rp 5-9 juta belum termasuk pesawat tambahan ke lokasi destinasi. Namun dengan harga yang sama, wisatawan bisa mengambil paket lengkap wisata Tiongkok selama 8 hari!

Alasan ketiga, wisata Indonesia dianggap tak menarik dan tak dikelola dengan baik. Hal ini dikabarkan oleh Republika bahwa pemerintah baik pusat dan daerah tak pernah serius mengembangkan potensi wisata yang sangat kaya tersebut. Hasilnya, wisatawan asing justru lebih mengenal Bali ketimbang warga negara sendiri. Warga Indonesia sangat minim informasi mengenai destinasi wisata di negeri sendiri.

Saya teringat dengan seorang teman yang tinggal di Jakarta namun berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sepulang dari kampung, ia memperlihatkan pemandangan pantai di desanya yang amat sangat eksotis. Saat itu saya mengira ia mengambil foto tersebut dari google, sebuah foto pantai di negara entah di mana. Nyatanya, ia kemudian memperlihatkan foto lain dengan pantai yang sama dan ia berdiri seorang diri di sana. Ya, seorang diri. Pantai itu sangat bersih dan biru. Foto layaknya wallpaper di personal computer itu ternyata ada di Indonesia.

Tersadarlah saya bahwa selama ini saya hanya mengenal Bali, padahal masih banyak destinasi wisata lain yang tak kalah dari Bali. Jika ada seseorang yang benar-benar menjelajah negeri ini dari Sabang sampai Merauke, mungkin ia akan menemukan jutaan destinasi wisata yang perlu dijelajahi. Destinasi yang membuat mata terbelalak, namun tak terjamah dan tak dikenali. Destinasi yang semestinya diunggulkan daripada sekedar plesir ke luar negeri.




Published at: ridwanloekito.id - Keterangan: Ini adalah artikel yang saya tulis untuk blog ridwanloekito (2017). Kepemilikan artikel (credit) untuk ridwanloekito.id. Harap cantumkan sumber untuk reshare! 

Minggu, 16 September 2018

[Opini] Hoax = Gila Informasi + Miskin Literasi



Hoax = Gila Informasi + Miskin Literasi

Hoax bukanlah masalah yang menimpa bangsa ini seorang diri. Hampir semua negara mengalaminya, bahkan Amerika Serikat sekalipun. Namun negeri Paman Sam memiliki tradisi literasi hingga tak kaget ketika menghadapi era informasi yang begitu masif. Adapun bagi Indonesia yang miskin tradisi literasi, harus terseok-seok menghadapi hoax dan badai informasi.

Sebagai contoh, ada beberapa grup WhatsApp yang saya ikuti. Hampir setiap grup itu memiliki satu atau dua orang yang gemar membagi informasi. Bukan hanya informasi berfaedah namun juga berita-berita hoax. Saat ditanya sumbernya, mereka menjawab enteng dari media sosial atau situs tertentu. Saat ditanya sudah diverifikasi belum, lagi-lagi mereka menjawab enteng bahwa foto dan video membuktikan kebenarannya.

Baiklah, mereka mungkin tak tahu bahwa kedua media itu pun bisa dimanipulasi layaknya tulisan. Namun saat terbukti apa yang mereka share adalah hoax, tanpa rasa bersalah mereka hanya mengucapkan terima kasih, kemudian mengulanginya di esok hari. Seakan-akan mereka justru berdosa jika tak menjadi penyebar terdepan informasi, alih-alih berdosa menyebarkan berita hoax.

Mereka ini bukan orang-orang yang tidak berpendidikan. Ada yang memiliki pekerjaan prestise, lulusan kampus ternama, bahkan bergelar magister luar negeri. Bayangkan betapa banyak di luar sana orang-orang seperti mereka, yakni seorang yang gila informasi dan berlomba-lomba menjadi orang pertama yang menyebarkannya. Mereka inilah ujung tombak penyebaran hoax meski bukan bagian dari pembuatnya.

Di akhir tahun 2016, Kementerian Komunikasi dan Informatika melansir data bahwa sedikitnya ada 800 situs yang diduga menyebarkan hoax, berita palsu dan ujaran kebencian. Itu baru situs, belum termasuk akun media sosial dan aplikasi chat pribadi seperti WhatsApp.

Mendata pihak penyebar hoax cukup sulit dilakukan. Pasalnya, sangat sulit memisahkan mana saja akun yang melakukan penyebaran hoax. Mengapa? karena hoax tidak memiliki standar layaknya konten pornografi yang jelas standarnya sebagai penyebar konten tulisan, foto atau video berbau porno.

Hal tersebut disampaikan Country Manager F5 Network Indonesia, Fetra Syahbana. Karenanyalah sangat sulit meredam hoax yang menjamur di tengah masyarakat. 

"Kesulitan kita untuk menyaring hoax karena memang belum ada standar baku, apakah ini asli atau palsu. Konten pornografi maupun kekerasan lebih mudah diatasi karena standarnya sudah jelas, misalnya ada gambar atau tulisan berbau pornografi," ujarnya dikutip dari liputan6.com.

Standar tersebut pula sulit dilakukan karena berita hoax amat sangat sulit diidentifikasi. Pasalnya, konten hoax secara kasa mata layaknya berita tepercaya dengan menampilkan banyak data yang dikemas layaknya fakta. Bahkan tak sedikit berita hoax yang mencatut nama seorang pakar atau tokoh ternama. Tak jarang pula konten hoax menyebut nama fiksi yang ditulis layaknya seorang pakar.

Chairman CISSReC (Communication and Information System Security Research Center), Pratama Persadha mengungkapkan, salah satu penyebab tersebarnya hoax adalah adanya budaya masyarakat yang merasa bangga jika dapat menjadi orang yang pertama kali menyebarkan berita, tanpa mempertimbangkan berita itu benar atau salah. Budaya tersebut kemudian difasilitasi dengan media yang jumlahnya tak sedikit, baik media sosial, situs berita serta WhatsApp.

“WhatsApp relatif lebih sulit untuk dipantau karena sifatnya tertutup. Penyebaran lewat WhatsApp ini sangat efektif dan cepat karena modal sosial budaya masyarakat yang gemar berbagi cerita,” ujarnya masih dilansir liputan6.com.

Penyebab lain, dijelaskan oleh Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Deddy Mulyana bahwa hoax tak lepas dari karakter masyarakat Indonesia yang gemar berkumpul dan enggan berbeda pendapat. Topik yang cenderung sering dibahas pula terkait drama, misteri, kekerasan dan sensualitas.

“Sejak dulu orang Indonesia gemar berkumpul dan bercerita. Sayangnya, apa yang dibicarakan belum tentu benar. Sebab, budaya kolektivisme ini tidak diiringi dengan kemampuan mengolah data. Sedangkan media sosial, sebagai sumber berita hoax, adalah kepanjangan panca indera manusia,” Kata Deddy kepada Tekno Liputan6.com.

Ketidakmampuan mengolah data dan rendahnya kecerdasan literasi, lanjut Deddy, membuat masyarakat Indonesia makin kesulitan menghadapi hoax. Hasilnya hoax dikonsumsi dengan sangat mudah. Indonesia kemudian kelimpungan menghadapi hoax yang begitu banyak tersebar.
Senada, Dosen dan Wakil Dekan III FKIP Universitas Islam Malang, Muhammad Yunus menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia masuk dalam tiga golongan sekaligus, yakni masyarakat dengan tingkat kepercayaan rendah (low-trust society)., masyarakat dengan tingkat literasi rendah (low-literacy society), serta masyarakat dengan tingkat ilmiah yang rendah (low-scientific society). Ketiganya menyebabkan masyarakat sangat mudah terpapar berita hoax.

Dijelaskan Yudi, low-trust society yakni masyarakat merasa tidak percaya kepada pemerintah. Terjadi kekecewaan yang mampu menyebabkan dekadensi nalar-etis. Sementara itu masyarakat juga mengalami tingkat literasi yang rendah yang kemudian berdampak pada tingkat ilmiah yang rendah pula karena nalar ilmiah hanya diperoleh dengan rajin membaca buku.

“Kemampuan literasi yang baik akan bermuara pada kemampuan mencerna, mengkritisi, mengevaluasi, menginferensi, menangkap pesan, membaca penulis, dan gaya tulisnya setiap teks yang dibacanya. Jika kita tidak mempunyai kemampuan ini sementara media sosial dengan gelombang informasi yang begitu dahsatnya, maka keniscayaan informasi itu akan ditelan mentah-mentah,” tuturnya, dikutip dari timesindonesia.com.

Dari penjelasan para pakar di atas, jelaslah bahwa apa yang perlu dibenahi masyarakat, yakni menanamkan budaya literasi. Inilah cara efektif mengingat sulitnya mengatasi hoax yang tersebar layaknya kacang goreng. Hoax yang sulit teridentifikasi ini menyulitkan pemerintah mengambil tindakan, juga menyulitkan perusahaan media sosial untuk memberikan batasan. 

Karenanyalah, hoax harus dilawan setiap individu. Dari individu, perubahan dapat dilakukan, budaya dapat digalakkan. Jadi, mari membaca, mari berubah!




Published at: ridwanloekito.id - Keterangan: Ini adalah artikel yang saya tulis untuk blog ridwanloekito (2017). Kepemilikan artikel (credit) untuk ridwanloekito.id. Harap cantumkan sumber untuk reshare!

Selasa, 30 Mei 2017

[Opini] Hoax = Gila Informasi + Miskin Literasi


Credit image:  trendwatching[dot]com

Hoax bukanlah masalah yang menimpa bangsa ini seorang diri. Hampir semua negara mengalaminya, bahkan Amerika Serikat sekalipun. Namun negeri Paman Sam memiliki tradisi literasi hingga tak kaget ketika menghadapi era informasi yang begitu masif. Adapun bagi Indonesia yang miskin tradisi literasi, harus terseok-seok menghadapi hoax dan badai informasi.

Sebagai contoh, ada beberapa grup WhatsApp yang saya ikuti. Hampir setiap grup itu memiliki satu atau dua orang yang gemar membagi informasi. Bukan hanya informasi berfaedah namun juga berita-berita hoax. Saat ditanya sumbernya, mereka menjawab enteng dari media sosial atau situs tertentu. Saat ditanya sudah diverifikasi belum, lagi-lagi mereka menjawab enteng bahwa foto dan video membuktikan kebenarannya. 

Baiklah, mereka mungkin tak tahu bahwa kedua media itu pun bisa dimanipulasi layaknya tulisan. Namun saat terbukti apa yang mereka share adalah hoax, tanpa rasa bersalah mereka hanya mengucapkan terima kasih, kemudian mengulanginya di esok hari. Seakan-akan mereka justru berdosa jika tak menjadi penyebar terdepan informasi, alih-alih berdosa menyebarkan berita hoax.

Mereka ini bukan orang-orang yang tidak berpendidikan. Ada yang memiliki pekerjaan prestise, lulusan kampus ternama, bahkan bergelar magister luar negeri. Bayangkan betapa banyak di luar sana orang-orang seperti mereka, yakni seorang yang gila informasi dan berlomba-lomba menjadi orang pertama yang menyebarkannya. Mereka inilah ujung tombak penyebaran hoax meski bukan bagian dari pembuatnya.

Di akhir tahun 2016, Kementerian Komunikasi dan Informatika melansir data bahwa sedikitnya ada 800 situs yang diduga menyebarkan hoax, berita palsu dan ujaran kebencian. Itu baru situs, belum termasuk akun media sosial dan aplikasi chat pribadi seperti WhatsApp.

Mendata pihak penyebar hoax cukup sulit dilakukan. Pasalnya, sangat sulit memisahkan mana saja akun yang melakukan penyebaran hoax. Mengapa? karena hoax tidak memiliki standar layaknya konten pornografi yang jelas standarnya sebagai penyebar konten tulisan, foto atau video berbau porno. 

Hal tersebut disampaikan Country Manager F5 Network Indonesia, Fetra Syahbana. Karenanyalah sangat sulit meredam hoax yang menjamur di tengah masyarakat. "Kesulitan kita untuk menyaring hoax karena memang belum ada standar baku, apakah ini asli atau palsu. Konten pornografi maupun kekerasan lebih mudah diatasi karena standarnya sudah jelas, misalnya ada gambar atau tulisan berbau pornografi," ujarnya dikutip dari liputan6.com.

Standar tersebut pula sulit dilakukan karena berita hoax amat sangat sulit diidentifikasi. Pasalnya, konten hoax secara kasa mata layaknya berita tepercaya dengan menampilkan banyak data yang dikemas layaknya fakta. Bahkan tak sedikit berita hoax yang mencatut nama seorang pakar atau tokoh ternama. Tak jarang pula konten hoax menyebut nama fiksi yang ditulis layaknya seorang pakar. 

Chairman CISSReC (Communication and Information System Security Research Center), Pratama Persadha mengungkapkan, salah satu penyebab tersebarnya hoax adalah adanya budaya masyarakat yang merasa bangga jika dapat menjadi orang yang pertama kali menyebarkan berita, tanpa mempertimbangkan berita itu benar atau salah. Budaya tersebut kemudian difasilitasi dengan media yang jumlahnya tak sedikit, baik media sosial, situs berita serta WhatsApp. 

“WhatsApp relatif lebih sulit untuk dipantau karena sifatnya tertutup. Penyebaran lewat WhatsApp ini sangat efektif dan cepat karena modal sosial budaya masyarakat yang gemar berbagi cerita,” ujarnya masih dilansir liputan6.com.

Penyebab lain, dijelaskan oleh Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Deddy Mulyana bahwa hoax tak lepas dari karakter masyarakat Indonesia yang gemar berkumpul dan enggan berbeda pendapat. Topik yang cenderung sering dibahas pula terkait drama, misteri, kekerasan dan sensualitas. 

“Sejak dulu orang Indonesia gemar berkumpul dan bercerita. Sayangnya, apa yang dibicarakan belum tentu benar. Sebab, budaya kolektivisme ini tidak diiringi dengan kemampuan mengolah data. Sedangkan media sosial, sebagai sumber berita hoax, adalah kepanjangan panca indera manusia,” Kata Deddy kepada Tekno Liputan6.com.

Ketidakmampuan mengolah data dan rendahnya kecerdasan literasi, lanjut Deddy, membuat masyarakat Indonesia makin kesulitan menghadapi hoax. Hasilnya hoax dikonsumsi dengan sangat mudah. Indonesia kemudian kelimpungan menghadapi hoax yang begitu banyak tersebar.

Senada, Dosen dan Wakil Dekan III FKIP Universitas Islam Malang, Muhammad Yunus menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia masuk dalam tiga golongan sekaligus, yakni masyarakat dengan tingkat kepercayaan rendah (low-trust society)., masyarakat dengan tingkat literasi rendah (low-literacy society), serta masyarakat dengan tingkat ilmiah yang rendah (low-scientific society). Ketiganya menyebabkan masyarakat sangat mudah terpapar berita hoax.

Dijelaskan Yudi, low-trust society yakni masyarakat merasa tidak percaya kepada pemerintah. Terjadi kekecewaan yang mampu menyebabkan dekadensi nalar-etis. Sementara itu masyarakat juga mengalami tingkat literasi yang rendah yang kemudian berdampak pada tingkat ilmiah yang rendah pula karena nalar ilmiah hanya diperoleh dengan rajin membaca buku. 

“Kemampuan literasi yang baik akan bermuara pada kemampuan mencerna, mengkritisi, mengevaluasi, menginferensi, menangkap pesan, membaca penulis, dan gaya tulisnya setiap teks yang dibacanya. Jika kita tidak mempunyai kemampuan ini sementara media sosial dengan gelombang informasi yang begitu dahsatnya, maka keniscayaan informasi itu akan ditelan mentah-mentah,” tuturnya, dikutip dari timesindonesia.com.

Dari penjelasan para pakar di atas, jelaslah bahwa apa yang perlu dibenahi masyarakat, yakni menanamkan budaya literasi. Inilah cara efektif mengingat sulitnya mengatasi hoax yang tersebar layaknya kacang goreng. Hoax yang sulit teridentifikasi ini menyulitkan pemerintah mengambil tindakan, juga menyulitkan perusahaan media sosial untuk memberikan batasan. Karenanyalah, hoax harus dilawan setiap individu. Dari individu, perubahan dapat dilakukan, budaya dapat digalakkan. Jadi, mari membaca, mari berubah!

Published at: ridwanloekito.id


Minggu, 28 Mei 2017

Masjid Pekojan dan Tradisi Bubur India



Klasik, tradisional dan merakyat, demikian ciri Masjid Pekojan yang berada di Kota Semarang, Jawa Tengah. Fisik bangunan masjid tak beda jauh dari masjid kuno pada umumnya di tanah Jawa. Kendati demikian, usia masjid ini telah lebih dari 200 tahun. 

Pasak kayu jati dan lantai marmer membuat masjid ini nampak kuno namun terawat dengan baik. Halamannya cukup luas ditambah sebuah kompleks makam yang tak dipuja berlebih. Terdapat pahatan kayu jendela yang polanya sangat identik dengan masjid-masjid tua, yakni pola bunga. Pahatan berbentuk binatang dan makhluk hidup memang tak pernah ditemui masjid-masjid tua yang dibangun para pendatang baik Gujarat, Arab, ataupun yang lainnya.

Masjid Pekojan Semarang yang berdiri sejak abad ke-18 tersebut memang lah dibangun oleh pendatang etnis Koja. Mereka merupakan salah satu etnis muslim di India yang datang dari Gujarat. Melalui jalur perdagangan, etnis Koja yang didominasi Kasta Ksatria itu datang ke nusantara. Namun bukannya kembali ke tanah kelahiran di Pantai Barat India, mereka justru memilih tinggal dan berbaur dengan warga pribumi.

Sayangnya, saat tiba di Semarang, warga Pribumi menjaga jarak dengan mereka. Untuk mengatasi hal tersebut, dibuatlah sebuah tradisi yang ditujukan untuk mengumpulkan warga asli pribumi dengan pendatang Koja. Mereka para etnis Koja membuat bubur yang biasa mereka buat di tanah India. Bubur tersebut kemudian dibagikan secara gratis di Bulan Ramadhan. Saat waktu berbuka, baik pendatang Koja maupun pribumi menyantap bersama-sama bubur India tersebut di Masjid Pekojan. Hubungan campur baur pendatang dan pribumi pun berjalan harmonis.

Tradisi bubur India yang memiliki usia sama sejak masjid dibangun tersebut masih berlangsung hingga kini. Setiap sore di bulan Ramadhan, Masjid Pekojan dipenuhi muslimin yang ingin mencicipi bubur India yang legendaris itu. Mereka yang datang tak hanya warga Semarang melainkan para pelancong maupun warga kota lain sekitar Semarang.

Tak ada yang istimewa dari penampilan bubur India, layaknya bubur beras pada umumnya namun berwarna lebih pekat. Hal yang spesial dari bubur tersebut adalah rasanya yang lezat dan tak pernah berubah dari masa ke masa. Aroma rempah-rempah yang kuat dari bubur sangat lah menggoda. Apa rahasia rempah-rempah tersebut, hanya etnis Koja yang tahu. Tugas juru masak bahkan diwariskan turun temurun sejak tradisi ini ada. Saat ini sang koki, Mbah Mu’in, merupakan generasi keempat. 

Menurut Mbah Muin, resep bubur India yang legendaris itu sangat lah mudah. Selain bahan utama beras dan santan, bumbu yang digunakan di antaranya ialah jahe, lengkuas, serai, daun salam, daun pandan, kayu manis, wortel, bawang merah dan bawang putih serta sayur mayur. Namun jika kita mencoba resep itu di dapur, entah mengapa rasanya tak sama seperti yang dibagikan gratis di Masjid Pekojan.

Setiap harinya selama bulan Ramadhan, tim Masjid Pekojan dapat menghabiskan 20 kilogram beras untuk membuat bubur India tersebut. Jangan tanya seberapa besar panci yang digunakan untuk memasak. Ukurannya sangat besar hingga sulit dikira. “Per hari 20 kilogram. Sekitar 150 hingga 200 mangkok dibagikan tiap hari selama bulan Ramadhan, “ ujar Takmir Masjid Pekojan, Ali Baharun.

Menyantap takjil bubur India sembari menikmati guratan-guratan tua Masjid Pekojan cukup membuat daya tarik tak terkira. Ukhuwah Islamiyah pun sangat terasa dengan menyantap buka puasa bersama-sama, duduk berbaris di pelataran masjid. Tradisi Bubur India ini rupanya telah mencapai tujuannya, yakni mempererat hubungan persaudaraan muslimin tanpa melihat etnis dan asal muasal.

Published at: muslimahdaily.com

Selasa, 23 Mei 2017

Opini: Indonesia, Negeri Tong Kosong Nyaring Bunyinya

Credit image:  theadmanagers.ca


Beberapa data tentang literasi dan sosial media telah membuktikan negeri ini banyak bicara dan miskin ilmu. Jika diibaratkan dengan pepatah, maka negara ini layaknya tong kosong yang nyaring bunyinya.

Berdasarkan penelitian yang dirilis The World’s Most Literate Nations (WMLN) tahun 2016, Indonesia masuk peringkat 60 dari 61 negara dalam hal minat membaca. Peringkat ini hanya satu tingkat di atas negara kecil Botswana. Miris bukan?

Lebih dari itu, penelitian lain oleh UNESO di tahun 2002 mengungkap data mencenangkan. Tingkat membaca bangsa ini hanya sebesar 0,001 persen. Artinya, hanya satu orang dari seribu masyarakat yang mau membuka buku dan membacanya. Sungguh memalukan.

Lebih memalukan lagi, Indonesia justru amat sangat berprestasi dalam hal penggunaan media sosial. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memaparkan bahwa negara ini masuk peringkat keempat tertinggi pengguna facebook di dunia. Untuk jumlah pengguna twitter pula, Indonesia masuk peringkat kelima dunia. 

Data masih belum habis. Secara jumlah total, ada 63 juta warga Indonesia yang menggunakan internet. Dari jumlah tersebut, 93 persennya menggunakan internet untuk membuka media sosial. Data dari Webershandwick bahkan menghitung ada 65 juta pengguna facebook dengan 33 juta aktif setiap hari dan 55 juta aktif dalam hitungan bulan. Apa yang dilakukan masyarakat Indonesia saat aktif di media sosial? jawabannya hanya update status dan menimpali komentar. 

Bagaimana jika data sosial media tersebut dibandingkan dengan jumlah pembaca buku di atas, hanya satu dari seribu orang yang membaca buku atau 0,001 persen! Jika menghitung jumlah masyarakat Indonesia sekitar 258 juta penduduk, maka yang aktif membaca buku hanya sekitar 2.580 orang. Bayangkan, 65 juta aktif sosial media sementara buku hanya dibaca 2 ribu orang. Perbandingannya 1:26 ribu!

Data-data tersebut menunjukkan betapa rendahnya minat baca masyarakat namun justru paling vokal di dunia maya. Hasilnya, Indonesia menjadi negara cerewet namun tak berisi. Buktinya, hoax dan fitnah tersebar dimana-mana. Ibarat pepatah, kondisi tanah air tak berbeda dari tong kosong yang jika ditabuh bunyinya amat sangat nyaring.

Budaya literasi sudah semestinya dibangun di negeri ini. Dengan adanya budaya literasi, seorang akan lebih suka menggenggam buku ketimbang gadget. Seorang hanya akan memposting dan berkomentar dari ilmu yang ia miliki dari membaca. Seseorang pula akan memilih pergi ke perpustakaan daripada menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar komputer dan gadget. Seseorang lebih suka menulis buku ketimbang menulis status di sosial media.

Budaya literasi ini bahkan sama pentingnya dengan budaya jujur anti korupsi dan budaya gotong royong. Mengutip ucapan sastrawan AS, Ray Bradbury, "Tidak perlu membakar buku untuk menghancurkan sebuah bangsa. Buat saja masyarakatnya berhenti membaca.”
Sebetulnya pemerintah telah mengeluarkan Permendikbud Nomor 23 tahun 2015 yang salah satu isinya yakni penumbuhan karakter melalui membaca. Dengannya dimulai Gerakan Literasi Bangsa (GLB) di sekolah-sekolah yang mengajak para siswa membaca selama 15 menit sebelum memulai pelajaran. Namun apakah ini efektif? Ada beberapa pertanyaan besar mengenai hal ini.

Pertama, mengapa membaca dimulai di sekolah dan bukan di rumah? Tentu saja pelajar lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ketimbang sekolah. Satu hal lagi, kita tak tahu berapa lama para pelajar memegang gadget di rumahnya. 

Lalu, pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan fasilitas buku yang ada? Meski membangun gerakan literasi, ternyata pemerintah justru mengurangi anggaran perpustakaan. Seperti dikabarkan JPNN, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) mengalami penurunan anggaran di tahun 2016, yakni dari Rp 701 miliar menjadi Rp 612 miliar.

Negeri ini sudah semestinya belajar dari Negara Finlandia. Inilah negara dengan minat baca nomor satu di dunia. Negara ini pula menjadi negara dengan sistem pendidikan terbaik dunia. Bagaimana mereka membangun budaya literasi? Ada lima kebiasaan yang mereka lakukan. Pertama, pemerintah memberikan buku anak untuk ibu yang baru melahirkan; kedua, membangun perpustakaan dimana-mana bahkan seorang ibu yang berbelanja terbiasa menaruh anaknya di perpustakaan; ketiga, mewajibkan pelajar membaca satu buku satu Minggu; keempat, menumbuhkan tradisi orang tua mendongeng sebelum anak tidur; dan kelima yakni tidak mengalih suarakan acara televisi asing sehingga anak mau tak mau membaca subtitlenya.

Sungguh tradisi literasi yang menakjubkan dilakukan negara Eropa tersebut. Tentu tidak sekedipan mata untuk menirunya. Butuh waktu bertahun-tahun lamanya agar menyamai budaya literasi Finlandia. Namun satu hal yang perlu digaris bawahi yakni mereka membangun sebuah kebiasaan. Inilah yang patut diteladani, membangun budaya literasi dengan membangun kebiasaan, bukan hanya untuk anak, tapi juga orang tua dan semua kalangan masyarakat. Yakin Indonesia bisa!

Published at: ridwanloekito.id

Selasa, 16 Mei 2017

Opini: Kekacauan Civil Society

Image credit: asiasociety.org


Selama ini masyarakat Indonesia berada dalam ketenangan hidup berbangsa dan bertanah air. Negara ini selalu damai meski kekacauan politik hingga peperangan melanda banyak negara saudara dan negara tetangga. Negeri ini pula dikenal dengan masyarakatnya yang sopan santun dan beradab. Karenanya status Civil Society atau masyarakat madani rasanya boleh disematkan di negeri ini.

Namun dalam setahun terakhir, status tersebut terancam pudar. Bangsa ini mulai dibanjiri kekacauan politik dan sosial yang tak pernah tercatat dalam sejarah. Masyarakat dihantui kekhawatiran dan dekadensi moral. Mirisnya, kekacauan itu hanya disebabkan oleh kasus yang melibatkan satu orang.

Sudah dapat ditebak, satu orang tersebut yakni Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Sejak kasus penistaan agama yang dilakukan gubernur non aktif DKI Jakarta tersebut, Indonesia menjadi gonjang-ganjing. Aksi digelar dimana-mana, beragam isu bertebaran dari bocornya informasi Badan Intelejen Negara (BIN) hingga isu rush Money yang membuat pusing menteri keuangan dan gubernur Bank BI. Belum lagi fitnah yang merajalela, dari turut campurnya ISIS, fitnah penentang Pancasila, pendanaan aksi oleh mantan Presiden RI, SBY dan fitnah-fitnah lain yang jumlahnya begitu banyak.

Ahok seakan menjadi trouble maker meski sebetulnya kekuatan dibalik Ahok lah yang mengacaukan satu negara. Miris, bagaimana isu satu orang mampu membuat negara dilanda banyak masalah dari beragam aspek, baik politik, hukum, ekonomi, dan terutama SARA.
Perang fisik memang tak terjadi dan itu patut disyukuri. Namun perang antar masyarakat yang memicu terpecahnya bhineka tunggal ika menjadi kekhawatiran yang patut dicari solusi. Terlebih lagi perang dunia maya, atau cyber war yang benar-benar telah membuat keresahan tingkat tinggi di tengah masyarakat. Bahkan jika dicermati, kebanyakan masalah yang merajalela justru hadir dari celotehan di dunia maya.

Civil Society atau masyarakat madani merupakan masyarakat yang memiliki adab, bermoral dan beretika, berdemokrasi dan menaati hukum. Jika menilik kondisi negara sekarang, rasanya semua itu sudah jauh dari Indonesia. Adab, etika dan moral tak lagi dimiliki bangsa. Kesantunan dan kesopanan menjadi barang langka yang nyaris hilang dan mungkin hanya dapat ditemui di pedesaan.

Sebagai contoh dalam isu Ahok, setiap orang pasti tahu bagaimana etika mantan bupati Belitung Timur yang pemarah dan blak-blakan saat memimpin Jakarta. Gayanya tersebut kemudian ditiru oleh banyak sekali pemimpin tanah air, dari walikota, bupati, gubernur, hingga menteri. Gaya yang awalnya ditanggapi positif kemudian menjadi malapetaka ketika lisan sang gubernur terindikasi menyampaikan penistaan terhadap kitab suci umat Islam.

Demokrasi Indonesia kemudian dipertanyakan ketika aparat nampak maju mundur mengusut kasus Ahok. Hingga kemudian ranah hukum ikut disudutkan ketika kasus tersebut seakan bertele-tele dan status Ahok masih terdakwa hingga kini. Sejatiya Ahok sendiri pernah menyatakan pada pers bahwa ia siap menerima konsekuensi jika membuat negara kacau. “Saya sudah sampaikan, kalau karena saya membuat negara kita begitu kacau, saya rela ditangkap, dipenjara,” ujar Ahok yang dikabarkan hampir semua portal berita.

Seandainya Ahok benar-benar dipenjara, apakah kondisi civil society akan kembali seperti semula. Saya pribadi tak yakin hal itu dapat terjadi dengan mudah, mengingat pola dan pandangan masyarakat pun telah banyak berubah.

Untuk mengembalikan bangsa ini menjadi civil society, perlu mewujudkan kembali unsur-unsur masyarakat madani. Sebagaimana disebutkan dalam buku “Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani” karya Komaruddin Hidayat dan Azyumari Azra, di antara unsur tersebut yakni memberikan wadah untuk menyalurkan pendapat masyarakat, mengembalikan kestabilan demokrasi, membudayakan sikap toleransi dan menerima adanya pluralisme. Unsur terakhir, menegakkan keadilan sosial di semua aspek kehidupan dan tidak memihak golongan tertentu.


Selain unsur pembangun, Civil society pula baru dapat terwujud jika ada pilar-pilar penegaknya. Sayangnya, saat ini pilar-pilar tersebut telah terkontaminasi oleh bayak kepentingan. Maka menjadi tugas bersama untuk mengembalikan pilar-pilar tersebut sesuai jalur dan tugasnya. Demikian yang harus dilakukan demi terciptanya civil society, demi mengembalikan Indonesia menjadi negara yang madani. Apa saja pilar itu? mereka yakni Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pers, supremasi hukum, perguruan tinggi dan partai politik. Pertanyaannya, butuh berapa tahun untuk membangun unsur civil society dan mengembalikan pilar-pilar tersebut sesuai tugas dan perannya? Butuh berapa lama negeri ini kembali menjadi negeri beradab?


Published at: ridwanloekito.id

Selasa, 09 Mei 2017

Opini: Yuk Tertib Keluar-Masuk Kereta

Image Credit: yooniqimage[dot]com


Menonton sebuah video via YouTube yang menggambarkan ketertiban masyarakat Jepang benar-benar telah membuat saya iri setengah mati. Padahal video itu hanya menampilkan warga Jepang yang sangat teratur saat naik dan turun atau masuk dan keluar dari kereta. Sebuah kebiasaan yang sebetulnya sederhana, namun ternyata sangat langka dilakukan warga Indonesia.

Digambarkan bagaimana mereka, masyarakat Jepang, menunggu kereta datang dengan berbaris di sebuah garis yang menunjukkan titik terbukanya pintu kereta. Ada dua barisan teratur di setiap tanda. Begitu kereta datang dan pintu terbuka, barisan ini tidak segera masuk melainkan menyingkir ke samping. Mereka memberikan jalan tengah untuk penumpang yang hendak keluar. Setelah tak ada lagi yang keluar, barulah mereka masuk. Pun masih dalam bentuk barisan saat menunggu. Benar-benar rapi dan tertib.

Begitu menontonnya segera saja benak dihinggapi pertanyaan besar, bisakah masyarakat Indonesia melakukan hal sama? apa yang dilakukan masyarakat Jepang hingga mencapai taraf budaya tertib setinggi itu?

Saya kemudian membandingkan pengalaman naik kereta Computer Line Jabodetabek. Tentu tak ada barisan menunggu kecuali orang berkumpul di garis batas peron. Begitu pintu kereta dibuka, semua orang berebut ingin masuk sementara penumpang yang telah tiba tujuan belum turun. Alhasil, terjadi desakan orang yang sangat tidak nyaman.

Tak heran jika saat rush hours, sering kali terjadi penumpang terinjak kakinya, terjepit pintu kereta, terjatuh, hingga terjerembap tak bisa keluar. Keruwetan ini bukannya justru membuat orang sadar untuk tertib, melainkan lebih sigap dan siaga agar tak ‘tergerus’ massa.

Di situlah titik sulitnya, jika kita sadar untuk tertib, namun orang lain tidak melakukannya, maka kita yang akan menjadi “korban”. Mau tak mau, penumpang dituntut untuk sigap, cepat, mampu menerobos dan tak peduli sekitar. Jika tak memiliki kecakapan tersebut, maka kita akan selalu tertinggal kereta, tak dapat celah masuk ataupun keluar.

Etika ini sudah menjadi kebiasaan warga Jakarta dan kota-kota satelitnya. Kebiasaan ini telah mengakar hingga menjadi karakter, kepribadian ataupun mental yang sangat sulit diubah. Namun sulit bukan berarti mustahil. Sulit bukan berarti tidak bisa.

Sebelumnya kita perlu menilik penyebab kepribadian masyarakat Indonesia yang sulit tertib dan malas mengantre serta sifat egois dan enggan melihat kepentingan orang lain. Dalam hal ini, enggan melihat penumpang lain yang sama-sama memiliki kepentingan, yakni sama-sama ingin cepat sampai tujuan. Kepribadian individualistik seakan telah melekat hingga sulit membangun mental untuk tertib.

Kepribadian manusia banyak dipengaruhi oleh budaya yang ada di lingkungan sekitar. Latar belakang lingkungan yang berbeda akan menghasilkan kepribadian yang berbeda pula. Mengenai korelasi kebudayaan dan kepribadian masyarakat ini dijelaskan oleh sosiolog Soerjono Soekanto bahwa ada lima tipe kebudayaan yang dapat membentuk kepribadian individu. Salah satunya yakni cara hidup di kota dan di desa yang berbeda. Masyarakat kota yang heterogen dan individualis tidak dapat disamakan dengan masyarakat desa yang homogen dan kolektif.

Sebagai contoh, budaya gotong royong membentuk kepribadian solidaritas sosial, rela berkorban, peka terhadap masalah sosial, memiliki sifat partikularisme atau kebersamaan. Namun sayangnya, budaya gotong royong hanya ditemui di pedesaan saja. Budaya ini nyaris lenyap di kalangan warga kota.

Sebaliknya, budaya orang kota justru memberikan penghargaan harkat martabat seseorang berdasarkan prestasi kerja dan kepemilikan harta benda. Budaya ini telah membentuk kepribadian masyarakat kota yang menghargai waktu namun tak menghargai kerja sama. mereka egois dan hanya giat menuntut kemajuan yang bersifat masa depan. Pun budaya kompetisi hidup yang kuat di ranah masyarakat kota. kebudayaan ini telah membunuh sifat solidaritas dan menumbuhkan sifat individualistik dan cenderung berani melanggar norma.

Sebetulnya beberapa budaya pedesaan merupakan jati diri asli bangsa ini. Hanya saja, seiring perkembangan zaman, seiring masuknya pengaruh asing, budaya itu makin terkikis. Lagi pula sifat budaya memang dinamis. Perubahannya bahkan sering kali terjadi tanpa kita sadari. Contoh sederhana, cobalah menilik foto kita beberapa tahun silam. Bandingkan dengan kita yang sekarang. Tanpa kita sadari, kita juga telah melakukan perubahan, entah dari segi gaya berpakaian, model sepatu, menu makanan yang disantap dan lain sebagainya.

Maka membangkitkan kembali semangat gotong royong, terutama di perkotaan, dapat merevolusi mental masyarakat yang mulai buruk kini. Gotong royong merupakan awalan, selanjutnya budaya luhur bangsa satu per satu dibenahi seperti budaya tepa selira, budaya kumpul sosial dan lain sebagainya. Buatlah aksi awal di lingkungan sekitar. Meski kecil, jika dilakukan banyak orang, tak ayal kepribadian bangsa akan pulih.

Namun untuk membangun semua itu, tentu butuh waktu yang tak singkat. Sembari proses membangun manusia tersebut, pemerintah bertugas memperbaiki sarana prasarana yang ada. Sebut saja meningkatkan kualitas dan kuantitas kereta, memfasilitasi peron yang nyaman untuk mengantre serta menjamin ketepatan waktu kereta.

Jika keduanya berjalan bersama, membangun manusia sekaligus membangun sarana prasarana, bukan hal mustahil bagi Indonesia menyaingi kemajuan dan ketertiban Jepang dalam waktu 10 hingga 20 tahun lagi. 


Published at: ridwanloekito.id