Selasa, 18 September 2018

[Opini] Bali di Pelupuk Mata tak Nampak, Jeju di Seberang Lautan Terlihat





Bali di Pelupuk Mata tak Nampak, Jeju di Seberang Lautan Terlihat

Indonesia memiliki keunggulan pariwisata terutama oleh keindahan alam yang luar biasa dan kebudayaan yang amat beragam. Negeri ini bahkan menjadi salah satu destinasi favorit mancanegara. Anehnya, masyarakat Indonesia justru lebih suka berwisata ke luar negeri. Keindahan negeri sendiri tak nampak, keglamoran negara lain dianggap lebih indah.

Keunggulan pariwisata Indonesia terbukti dari peringkat dunia yang diperoleh negeri ini. Dikabarkan oleh Kompas, Indonesia yang diwakili Bali masuk sebagai 25 destinasi terbaik dunia versi AS News & World Report 2016-2017. Lebih tepatnya, Pulau Dewata meraih peringkat 22 di antara 25 destinasi terbaik seluruh dunia. Peringkat tersebut bahkan di atas satu tingkat dari San Fransisco, California yang terkenal dengan Hollywood-nya.

Namun ternyata fakta ini hanya terlihat oleh para wisatawan asing. Pasalnya, di negeri sendiri, jumlah wisatawan lokal hanya berkisar puluhan ribu sementara warga yang berwisata ke luar negeri mencapai angka jutaan jiwa. Data dari Kemenparekraf dan BPS, jumlah warga Indonesia yang berwisata ke luar negeri mencapai angka 6,67 juta di periode Januari-November 2016. Tahun sebelumnya, jumlah tersebut mencapai 7,8 juta (2014) dan 7,9 juta (2015).

Sementara jumlah wisatawan nusantara hanya 236 ribu (2011), 245 ribu (2012) dan 250 ribu (2013). Angkanya tak pernah tembus di atas 300 ribu, apalagi satu juta. Jumlah ini jauh lebih banyak daripada wisatawan mancanegara yang memilih berlibur ke Indonesia. Dikabarkan kantor berita Antara, pada Juli 2016 lalu, BPS bahkan mencatat rekor baru kunjungan wisman yang mencapai 1,03 juta kunjungan. Artinya, orang asing lebih menikmati pariwisata Indonesia, ketimbang warganya sendiri.

Mirisnya, destinasi favorit luar negeri oleh warga Indonesia bukan lain adalah Singapura, Malaysia dan Tiongkok (Data World Tourism Organization, dilansir bisniswisata). Di tahun 2016, tren mulai berubah. Diungkap dalam survei skycanner yang dikutip dari liputan6, Korea Selatan meraih peringkat pertama sebagai destinasi populer warga Indonesia. Padahal, jika melihat destinasi wisata keempat negara tersebut, jumlahnya tak sebanyak dan tak mampu menandingi negeri ini. Bila menilik AS News & World Report, keempatnya pula tak masuk dalam 25 destinasi terbaik dunia.

Maka muncul pertanyaan, mengapa keindahan Indonesia tak diminati warga sendiri dan justru memilih berlibur ke negara lain yang bahkan pilihan wisatanya itu-itu saja. Singapura dan Malaysia unggul di ranah fasilitas hiburan seperti Universal Studio atau Lego Land yang sebetulnya Jakarta memiliki hiburan sejenis yang jumlahnya sangat banyak dan amat sangat beragam. Tiongkok terkenal dengan tembok raksasa dan barang murah yang sebetulnya Indonesia memiliki Candi Borobudur dan Candi Prambanan, juga barang unik murah di Malioboro, Jogja atau di kota kembang, Bandung. Adapun Korea Selatan terkenal dengan Pulau Jeju yang sebetulnya amat sangat jauh keindahannya dibandingkan Bali.

Destinasi yang disebut di atas belum seberapa dengan kekayaan wisata Indonesia. Beberapa diantaranya yakni Danau Toba (Sumatera Utara), Bukittinggi (Sumatera Barat), Anambas (Kep. Riau), Way Kambas (Lampung), Ujung Kulon (Banten), Karimun Jawa (Jawa Tengah), Bromo (Jawa Timur), Kepulauan Derawan (Kalimantan Timur), Pulau Komodo (Nusa Tenggara Timur), Bunaken (Sulawesi Utara), Raja Ampat (Papua Barat) dan masih banyak lagi.

Jika ditilik lebih jauh, banyak alasan mengapa warga Indonesia lebih memilih wisata ke luar negeri meski negeri sendiri sangat indah. Pertama, prestise. Ada anggapan di tengah masyarakat bahwa seorang yang pergi ke luar negeri adalah orang kaya. Prestis yang didapat sangat tinggi. Padahal, ongkos yang dikeluarkan untuk perjalanan Jakarta-Malaysia kira-kira tak beda jauh dengan Jakarta-Jogja. Apalagi mengingat tak perlu visa untuk pergi ke sesama negara Asia tenggara.

Kedua, harga wisata luar negeri yang lebih murah dibanting wisata domestik. Sebagaimana disebut sebelumnya, mana yang dianggap “wah” oleh teman-teman, ke Jogja atau ke Malaysia? Dengan harga yang sama, seorang bisa ke luar negeri yang dianggap lebih keren daripada ke Jogja yang hanya dianggap lokal.

Dikabarkan oleh Kompas, salah satu alasan tingginya minat masyarakat untuk wisata ke luar negeri adalah harga tiket pesawat terbang ke luar negeri yang lebih terjangkau. Misalkan saja penerbangan Jakarta-Singapura (tahun 2011) hanya USD 86 dolar PP. Sementara untuk Jakarta-Bali saja tak cukup Rp 500 ribu sekali jalan. Contoh lain, untuk pergi ke Raja Ampat, tarif yang dipatok Rp 5-9 juta belum termasuk pesawat tambahan ke lokasi destinasi. Namun dengan harga yang sama, wisatawan bisa mengambil paket lengkap wisata Tiongkok selama 8 hari!

Alasan ketiga, wisata Indonesia dianggap tak menarik dan tak dikelola dengan baik. Hal ini dikabarkan oleh Republika bahwa pemerintah baik pusat dan daerah tak pernah serius mengembangkan potensi wisata yang sangat kaya tersebut. Hasilnya, wisatawan asing justru lebih mengenal Bali ketimbang warga negara sendiri. Warga Indonesia sangat minim informasi mengenai destinasi wisata di negeri sendiri.

Saya teringat dengan seorang teman yang tinggal di Jakarta namun berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sepulang dari kampung, ia memperlihatkan pemandangan pantai di desanya yang amat sangat eksotis. Saat itu saya mengira ia mengambil foto tersebut dari google, sebuah foto pantai di negara entah di mana. Nyatanya, ia kemudian memperlihatkan foto lain dengan pantai yang sama dan ia berdiri seorang diri di sana. Ya, seorang diri. Pantai itu sangat bersih dan biru. Foto layaknya wallpaper di personal computer itu ternyata ada di Indonesia.

Tersadarlah saya bahwa selama ini saya hanya mengenal Bali, padahal masih banyak destinasi wisata lain yang tak kalah dari Bali. Jika ada seseorang yang benar-benar menjelajah negeri ini dari Sabang sampai Merauke, mungkin ia akan menemukan jutaan destinasi wisata yang perlu dijelajahi. Destinasi yang membuat mata terbelalak, namun tak terjamah dan tak dikenali. Destinasi yang semestinya diunggulkan daripada sekedar plesir ke luar negeri.




Published at: ridwanloekito.id - Keterangan: Ini adalah artikel yang saya tulis untuk blog ridwanloekito (2017). Kepemilikan artikel (credit) untuk ridwanloekito.id. Harap cantumkan sumber untuk reshare! 
Afriza Web Developer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar